Warga Blokir Akses PT SIL Dengan 2 Unit Truck Karena Hal Ini

RealitaBengkulu.co.id, SELUMA – Pasca dilaporkan petani yang tergabung kedalam Forum Petani Bersatu (FPB) ke Polres akibat tudingan Pungli, Kamis (13/07) petani kembali melakukan penutupan akses jalan utama dikawasan areal PT SIL yang berada di desa Lunjuk kecamatan Seluma Barat.
“Petani kesal dengan adanya pungutan yang dilakukan oknum security perusahaan, terhadap warga yang membawa buah sawit melalui jalan milik perusahaan,” ujar Syafe’I (60) warga desa Lunjuk Kecamatan Seluma Barat, Kamis (13/7).
Aksi penutupan jalan melibatkan ratusan warga, dengan cara menghadang lalu lintas jalan menggunakan 2 unit truck yang dilintangkan di tengah jalan sejak Kamis pagi. Kondisi itu, tentunya sempat menghambat aktivitas jalan.”Ada sekitar 500-an hektar lebih lahan milik petani di dekat areal PT SIL,” ujarnya.
Beruntung aksi protes petani dapat diredam, setelah antara kedua belah pihak menuai kesepakatan.”Pihak manajemen perusahaan berjanji tidak lagi melakukan pungutan dan membebaskan mobil petani yang masuk ke areal perusahaan. Dengan kesepakatan itu, laporan ke Polres juga di cabutl sampai Syafei.
Menurut Syafei, sebelumnya aksi pungutan yang diambil untuk 1 unit mobil truck pengangkut sawit itu mencapai Rp 200 ribu. Ini sangat menyulitkan petani, sebab harga sawit dibeli toke di dalam hanya Rp 700, belum lagi ongkos angkut dan biaya pungutan.
Kendati sementara telah damai, namun petani berharap adanya konsitensi dari kebijakan perusahaan. Sementara itu, manajemen PT Sandabi Indah Lestari menegaskan tidak melarang masyarakat melintasi jalan di lingkungan perusahaan perkebunan sawit,  selagi menggunakan kendaraan kecil seperti L300 atau sejenisnya.
Selain itu, manajemen mengklaim yang dipungut oknum security hanya para toke sawit, yang sering melintas membawa muatan tonase yang dianggap merusak jalan.Dana yang dipungut,  digunakan untuk membeli material untuk menimbun jalan yang rusak. Kapolres Seluma AKBP Raden Tri Wahyu melalui Kaur Humas Polres Seluma, Ipda Agus S mengakui, hingga Kamis petang pihak manajemen perusahaan dan masyarakat yang tergabung ke dalam Forum Petani Bersatu masih melakukan mediasi.
PT BIL Kangkangi Surat DLH
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Seluma menemukan adanya indikasi dugaan penambangan galian C liar atau ilegal yang beroperasi di Sungai Sekalak Kecamatan Seluma Utara. Menyikapi hal itu, DLH sendiri mengklaim telah melayangkan surat kepaa pihak PT BIL yang diduga ada dibelakang kegiatan tersebut. Namun sayangnya, hingga kini pihak PT BIL terkesan mengangkangi surat tersebut. “Dari adanya laporan masyarakat dan pemberitaan surat kabar, DLH telah melayangkan surat kepada PT BIL, untuk meminta informasi dan klarifikasi atas hal itu,”  sampai kepala Dinas DLH, Hadi Susanto SE, Jumat (14/07).
Surat bernomor 660/137/DLH/V/2017 tersebut dilayangkan sejak 29 Mei 2017 lalu.
“Informasi dari keterangan pihak perusahaan, jika pengambilan batu itu untuk perbaikan jalan diareal perusahaan dan jalan menuju sejumlah desa, bukan untuk di jual,” sampainya.
Sementara itu, wakil ketua II DPRD Seluma, Okti Fitriani S.Pd, MM ikut prihatin dengan masih maraknya keberadaan penambangan galian C liar di kabupaten Seluma.”Kalau memang  tidak mengindahkan  surat dari DLH, tentunya diproses secara prosedur dan ketentuan yang ada” sampainya.[AN/E01]

Comments are closed.