Nasional

Amerika, Negara dengan Obsesi Perang Paling Akut

Realita BengkuluAmerika Serikat sejak lama dikenal sebagai negara yang doyan perang. Dalam 2 dekade terakhir saja, mereka terlibat dalam berbagai operasi militer di berbagai belahan dunia, mulai dari Afghanistan, Irak, Libya, hingga Iran. Apakah Amerika memang sudah kecanduan perang?

Faktanya, Amerika selalu hadir dan ikut campur dalam konflik global, tidak peduli siapa yang menjadi presiden. Dari George W. Bush, Barack Obama, Donald Trump, hingga Joe Biden, polanya tetap sama: Amerika selalu merasa paling berhak menentukan nasib dunia.

Kekacauan yang Ditinggalkan Amerika

Misalnya saja invasi ke Afghanistan pada 2001 yang berlangsung selama 20 tahun. Narasi awalnya jelas, yaitu perang melawan terorisme sebagai respons atas peristiwa 9/11. Namun, hasilnya hanyalah sia-sia. Setelah ratusan ribu nyawa dan triliunan dolar terbuang, Taliban justru kembali berkuasa.

Kondisi Irak bahkan lebih parah lagi. Invasi pada Maret 2003 didalihkan dengan tuduhan adanya senjata pemusnah massal, yang ternyata tidak pernah ditemukan. Alih-alih demokrasi, negara itu justru menjadi wilayah yang kacau, penuh konflik sektarian, dan melahirkan ekstremisme baru.

Amerika, si NPD yang Doyan Perang

Menariknya, semua tindakan militer Amerika selalu dibalut dengan retorika moral yang terkesan paling tinggi. Mereka berbicara soal hukum internasional, demokrasi, dan HAM, tapi dalam praktiknya semua itu sering bersifat sangat selektif.

Amerika juga tampak kontradiktif. Di bawah Donald Trump, mereka gencar mengampanyekan ‘Make America Great Again (MAGA)’. Namun, energi MAGA justru sering diproyeksikan keluar, berupa tekanan, ancaman, bahkan konflik. Seolah-olah, kebesaran Amerika harus dibuktikan bukan dari dalam, tapi dari kemampuannya menunjukkan superioritas ke luar.

Jadi, mungkin istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) memang tepat untuk menggambarkan perilaku Amerika. Mereka merasa paling benar, paling berhak, dan sulit menerima bahwa dunia tidak harus selalu tunduk. Selama cara pandang seperti itu masih ada, dunia tidak akan pernah benar-benar tenang.