Realita Bengkulu – Sebuah kecelakaan sepur kelinci menewaskan satu penumpang di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, pada Sabtu (28 Maret 2026) pagi. Kendaraan berplat nomor S 8185 PA itu membawa sekitar 20 ibu-ibu dan anak-anak dalam perjalanan rombongan halalbihalal pasca-Lebaran ketika terjadi kecelakaan tragis yang melibatkan kegagalan menanjak.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pemahaman medan dan kapabilitas kendaraan dalam melakukan perjalanan darat, terutama ketika membawa rombongan keluarga besar. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa beban berlebihan dan pemahaman rute yang kurang menjadi faktor utama terjadinya bencana ini.
Kronologi Kecelakaan Sepur Kelinci di Gondang Mojokerto
Sekitar pukul 09.00 pagi, sepur kelinci yang disopiri oleh Sariono (53 tahun), warga Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, berusaha menanjaki jalan curam di Dusun Jati, Desa Jatidukuh. Sopir mengalami kesulitan mengemudi kendaraan yang membawa penumpang cukup berat saat melewati tanjakan yang menantang tersebut.
Kendaraan tidak mampu menanjak dengan baik, sehingga meluncur mundur tanpa terkontrol. Sepur kelinci menabrak gapura di sekitar lokasi, kemudian teguling dan baru berhenti setelah menghantam tiang listrik yang akhirnya roboh. Benturan keras akibat teguling menyebabkan satu penumpang terlempar dari kendaraan dan mengalami luka fatal.
Identitas Korban dan Rombongan yang Tertimpa Musibah
Korban meninggal dunia bernama Sulimah, seorang perempuan asal Desa Mlaten, Kecamatan Puri. Tubuhnya ditemukan terdampak di tepi sungai sekitar tempat kejadian perkara. Para penumpang lainnya merupakan karyawan pabrik pembuat wadah telur yang berlokasi di Desa Kebonagung, Kecamatan Puri.
Rombongan tersebut berangkat dengan tujuan melaksanakan tradisi unjung-unjung atau halalbihalal, yang merupakan kebiasaan silaturahmi setelah perayaan Hari Raya Lebaran berakhir. Kegiatan ini mengumpulkan keluarga besar pekerja pabrik untuk saling mengunjungi dan mempererat hubungan persaudaraan.
Belasan Korban Luka-Luka Tersebar di Berbagai Fasilitas Kesehatan
Selain satu korban jiwa, insiden ini juga mengakibatkan belasan penumpang lain mengalami luka-luka. Evakuasi korban dilakukan ke tiga fasilitas kesehatan berbeda untuk penanganan yang optimal dan sesuai tingkat keparahan luka masing-masing.
Sebanyak 11 korban, termasuk Sulimah yang meninggal, dievakuasi ke Rumah Sakit Sumberglagah di Pacet. Kemudian, 10 korban lainnya ditangani di Puskesmas Gondang untuk penanganan medis awal dan pemeriksaan lanjutan. Seorang korban tambahan mendapat perawatan di RSUD Prof Dr. Soekandar, Mojosari, untuk penanganan kasus khusus.
Sopir Sariono juga mengalami luka dalam kecelakaan tersebut dan dirawat di Rumah Sakit Sumberglagah untuk mendapat penanganan medis yang komprehensif. Kondisi dirinya menjadi perhatian khusus dalam penyelidikan penyebab kecelakaan sepur kelinci tersebut.
Penyebab Kecelakaan Menurut Analisis Polres Mojokerto
Kasatlantas Polres Mojokerto, AKP Yogie Pratama, menjelaskan kronologi awal berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan. Kendaraan melaju dari arah timur ke barat melewati tanjakan yang cukup curam dengan kondisi medan yang menantang.
Faktor beban terlalu berat menjadi penyebab utama mengapa sepur kelinci tidak kuat menanjak dengan sempurna. Kendaraan kemudian meluncur ke bawah diduga tanpa pengereman yang memadai, mengakibatkan kehilangan kontrol penuh atas arah dan kecepatan gerak kendaraan.
Saksi mata lokal, Aji, warga setempat, memberikan keterangan bahwa sopir sepertinya tidak memahami medan dengan baik. Menurut Aji, ada petunjuk arah yang seharusnya mengarahkan pengendara melewati jalur ke kanan, namun sopir justru terus mengarahkan kendaraan ke atas, melawan arus yang seharusnya dilalui.
Faktor Ketidakpahaman Rute dan Kapabilitas Kendaraan
Kegagalan mengenali rute yang aman menjadi kontributor signifikan dalam terjadinya kecelakaan sepur kelinci ini. Pengemudi seharusnya sudah memiliki pengetahuan mendalam tentang medan sebelum membawa penumpang dalam jumlah besar melewati jalanan yang curam dan berpotensi berbahaya.
Meski begitu, pengecekan kapabilitas kendaraan sebelum perjalanan panjang juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan. Sepur kelinci dengan kapasitas 20 penumpang memerlukan mesin dan sistem transmisi yang mampu mengatasi beban berat di medan tanjakan curam tanpa mengalami slip atau kehilangan tenaga.
Pembebanan yang tepat pada kendaraan, plus pemahaman rute yang matang, merupakan kombinasi krusial untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan. Faktor human error dalam hal navigasi dan penilaian kapasitas kendaraan menjadi catatan penting bagi semua pengendara rombongan.
Dampak dan Pembelajaran dari Insiden Tragis Ini
Kecelakaan sepur kelinci halalbihalal di Gondang Mojokerto meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar karyawan pabrik pembuat wadah telur yang tertimpa musibah. Satu nyawa hilang dan puluhan orang mengalami trauma fisik dan mental akibat insiden yang terjadi dalam hitungan detik ini.
Pembelajaran penting dari tragedi ini adalah pentingnya persiapan matang sebelum melakukan perjalanan rombongan, khususnya melalui jalanan yang sulit. Pemilihan sopir berpengalaman, pengecekan kondisi kendaraan, pembatasan beban sesuai kapasitas, dan pemahaman rute yang jelas menjadi langkah-langkah pencegahan yang tidak boleh ditawarokan.
Selain itu, kebiasaan berbisnis dengan aman dan mengutamakan keselamatan penumpang harus menjadi budaya dalam setiap perjalanan darat bersama. Momen halalbihalal yang seharusnya penuh kebersamaan dan kegembiraan berubah menjadi momen duka, mengingatkan semua pihak akan pentingnya kehati-hatian dalam berkendara.
Polres Mojokerto terus melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan semua faktor penyebab kecelakaan sepur kelinci ini terdokumentasi dengan baik. Laporan resmi dari penyelidikan kepolisian diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi operator kendaraan sejenis untuk menghindari terulangnya tragedi serupa.






