Nasional

Indonesia Peringkat 17 Negara Teraman – Kapolri Tekankan Peran NU

Realita Bengkulu – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo menegaskan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) menjadi faktor utama pendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (5/2/2026).

Dalam pidato utamanya, Kapolri menghadirkan sejumlah data menarik tentang posisi Indonesia di panggung keamanan global, sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara kepolisian dan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dalam menjaga stabilitas sosial.

Indonesia Peringkat 17 Negara Paling Aman Dunia

Kapolri mengumumkan bahwa Indonesia menempati peringkat 17 dari 141 negara dalam kategori negara paling aman, berdasarkan survei World Risk Poll Gallup 2024. Pencapaian ini menunjukkan kondisi keamanan Indonesia cukup baik di tingkat global, meski masih perlu ditingkatkan di masa mendatang.

Faktanya, Jenderal Sigit menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hanya terwujud jika stabilitas keamanan tetap terjaga. Keamanan yang kondusif akan mendorong investasi dan kegiatan ekonomi masyarakat, sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan nasional. Peringkat 17 tersebut bukan hanya angka statistik, melainkan bukti nyata komitmen seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga ketenangan dan ketertiban.

Kamtibmas sebagai Prasyarat Pembangunan Ekonomi

Kapolri mengatakan, “Salah satu hal yang menjadi prasyarat atau modal utama untuk bisa terjaga pertumbuhan ekonomi adalah stabilitas Kamtibmas atau stabilitas keamanan dalam negeri.” Pernyataan ini menekankan bahwa ekonomi yang kuat tidak bisa dibangun di atas fondasi ketidakamanan.

Selain itu, Kapolri dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi kepolisian, termasuk Kabaintelkam, Kadivhumas, Kadivpropam, dan Wakabareskrim. Kehadiran mereka menandakan komitmen serius kepolisian dalam memperkuat kerja sama dengan NU guna menjaga keamanan dan stabilitas sosial di Indonesia. Jajaran pimpinan kepolisian tersebut siap bersinergi dengan kekuatan organisasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua lapisan masyarakat.

Peran Strategis NU dalam Menjaga Kebangsaan

Kapolri menekankan bahwa Munas NU akan menghasilkan keputusan strategis selaras dengan visi Indonesia Emas 2045. Beliau menilai NU sebagai organisasi keagamaan memiliki peran sentral dalam membangun bangsa, terutama dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

“Masuk dan lepas dari middle income trap, kemudian karena NU pelopor negara dalam menjaga pilar kebangsaan dan kenegaraan,” ungkap Kapolri. Menurutnya, peran NU dalam membimbing masyarakat untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan sangat penting menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Organisasi ini telah terbukti menjadi tulang punggung dalam mempertahankan corak kebangsaan Indonesia yang moderat dan inklusif.

Komitmen Bersama Menjaga Persatuan Bangsa

Jenderal Sigit juga menegaskan bahwa menjaga persatuan bangsa harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen masyarakat. Beliau mengajak setiap pihak untuk terus berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan negara.

Kapolri menambahkan, “Saat ini yang terdepan adalah Nahdlatul Ulama, terima kasih Nahdlatul Ulama. Tentunya harus kita jaga dan perjuangkan sampai kapan pun.” Pernyataan ini merefleksikan pengakuan resmi negara terhadap kontribusi NU dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat sinergi antara aparat keamanan dengan institusi keagamaan.

Sinergi Kepolisian dan NU untuk Indonesia yang Aman

Tidak hanya itu, Kapolri juga menyatakan harapannya agar sinergi antara NU dan kepolisian terus diperkuat demi menciptakan Indonesia yang aman, damai, dan sejahtera. Kolaborasi ini dianggap sangat strategis mengingat NU memiliki jangkauan luas ke seluruh lapisan masyarakat melalui jaringan pesantren, majelis taklim, dan berbagai organisasi sosialnya.

Dengan memadukan kekuatan aparat keamanan yang profesional dan organisasi kemasyarakatan yang mendalam berakar di masyarakat, diharapkan dapat tercipta ekosistem keamanan yang holistik. Pendekatan ini menggabungkan aspek represif (dari kepolisian) dengan aspek persuasif dan edukatif (dari organisasi keagamaan) untuk menciptakan masyarakat yang sadar akan pentingnya keamanan dan ketertiban.

Dengan peringkat 17 dari 141 negara sebagai negara paling aman, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang. Namun, pencapaian ini tidaklah permanen dan memerlukan komitmen berkelanjutan dari semua pihak, khususnya kepolisian dan organisasi masyarakat seperti NU, untuk memastikan bahwa Indonesia terus menjadi negara yang aman dan stabil bagi semua warganya. Sinergi antara institusi negara, agama, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang dirancangkan oleh kepemimpinan nasional.