Realita Bengkulu – Timnas Italia resmi gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti 1-4 dari Bosnia & Herzegovina di babak playoff zona Eropa. Kekalahan ini menandai kegagalan ketiga beruntun Gli Azzurri—julukan Timnas Italia—untuk tampil di turnamen sepakbola paling bergengsi di dunia sejak 2014.
Skuad asuhan Gennaro Gattuso harus menelan pil pahit di final playoff setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit melawan Bosnia. Padahal, Italia sebelumnya berhasil mengalahkan Irlandia Utara dengan skor 2-0. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi negara yang empat kali mengangkat trofi Piala Dunia.
Negara Sepakbola dengan Segudang Prestasi
Italia layak menyandang predikat sebagai salah satu negara sepakbola terbesar di dunia. Azzurri merupakan negara kedua setelah Brasil yang mengkoleksi trofi Piala Dunia terbanyak, yakni empat kali juara.
Tidak hanya itu, Liga Italia juga menempati posisi dua di ranking kompetisi antarklub Eropa saat ini. Serie A hanya kalah dari Premier League Inggris dalam hal kualitas dan prestise kompetisi.
Namun, pencapaian gemilang di level klub berbanding terbalik dengan performa tim nasional mereka. Dalam delapan tahun terakhir, Timnas Italia justru absen dari panggung Piala Dunia, turnamen yang paling bergengsi di jagat sepakbola.
Kemerosotan Setelah Juara 2006
Italia terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 2006 di Jerman. Setelah itu, performa Gli Azzurri pelan-pelan merosot drastis.
Buktinya, saat tampil di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dan Piala Dunia 2014 Brasil, kiprah Italia selalu terhenti di fase grup. Padahal, mereka datang sebagai juara bertahan pada turnamen 2010.
Selain itu, kegagalan demi kegagalan mulai menghantui tim berjuluk Azzurri ini. Prestasi di level klub tidak berbanding lurus dengan capaian tim nasional mereka di kompetisi internasional.
Kegagalan Pertama: Playoff 2018 vs Swedia
Bencana pertama menimpa Timnas Italia pada 2017, tepatnya ketika berlaga di playoff Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Italia hanya mampu finis sebagai runner-up di bawah Spanyol pada babak pertama kualifikasi.
Akibatnya, Italia harus menghadapi Swedia di babak playoff untuk memperebutkan tiket terakhir ke Piala Dunia 2018 Rusia. Tim berjuluk Azzurri kalah 0-1 saat bertandang ke markas Swedia di leg pertama.
Di leg kedua, Italia bermain di kandang sendiri dengan tekad membalikkan keadaan. Meski begitu, mereka hanya mampu bermain imbang 0-0. Alhasil, Italia kalah agregat 0-1 dan gagal lolos ke Piala Dunia 2018 untuk pertama kalinya sejak 1958.
Kegagalan Kedua: Playoff 2022 vs Makedonia Utara
Nasib tragis kembali menghampiri Italia di playoff Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa. Efek dari hanya menjadi runner-up Grup C di bawah Swiss pada babak pertama kualifikasi, Italia kembali harus melewati jalur playoff.
Azzurri dipertemukan dengan Makedonia Utara dalam laga semifinal playoff. Apes bagi Italia, mereka kalah 0-1 dari tim yang jauh lebih rendah kualitasnya.
Menariknya, pertandingan tersebut berlangsung di kandang sendiri, tepatnya di Stadion Renzo Barbera, Palermo. Kekalahan memalukan ini membuat Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 Qatar, melanjutkan puasa mereka dari turnamen akbar tersebut.
Kegagalan Ketiga: Playoff 2026 vs Bosnia & Herzegovina
Terbaru, skuad asuhan Gennaro Gattuso gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia & Herzegovina. Italia sempat menang 2-0 atas Irlandia Utara di semifinal playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa.
Namun, harapan pupus di final playoff. Italia menghadapi Bosnia dalam pertandingan yang berlangsung sengit. Kedua tim bermain imbang 1-1 hingga 120 menit berlalu.
Kemudian, laga dilanjutkan ke adu penalti. Di babak ini, Italia tampil buruk dan kalah 1-4 dari Bosnia. Hasil ini jelas menjadi pukulan telak bagi sepakbola Italia yang kini tiga kali beruntun gagal lolos Piala Dunia.
Dampak Buruk bagi Sepakbola Italia
Kegagalan beruntun ini membawa dampak negatif bagi ekosistem sepakbola Italia secara keseluruhan. Tanpa kehadiran tim nasional di Piala Dunia, generasi muda Italia kehilangan panggung untuk menunjukkan kualitas mereka di level tertinggi.
Di sisi lain, absennya Italia dari Piala Dunia juga berdampak pada minat sponsor dan nilai komersial tim nasional. Negara dengan sejarah sepakbola gemilang ini kini harus menanggung malu akibat tiga kali beruntun gagal tampil di turnamen empat tahunan tersebut.
Ternyata, prestasi klub tidak menjamin kesuksesan tim nasional. Italia perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan pemain muda hingga strategi pelatih agar bisa kembali ke jalur yang benar.
Singkatnya, Italia harus bangkit dari keterpurukan ini. Dengan kekayaan sejarah dan infrastruktur sepakbola yang mumpuni, Gli Azzurri seharusnya mampu kembali bersaing di level tertinggi dunia. Pertanyaannya, kapan Italia bisa mengakhiri puasa Piala Dunia mereka?





