Edukasi

Kemampuan Matematika Mahasiswa Turun Drastis 2026

Realita Bengkulu – Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, Dosen Matematika Aljabar FMIPA UGM, mengungkapkan fakta mengejutkan tentang kemampuan matematika mahasiswa Indonesia. Mahasiswa program studi Matematika yang masuk 5 hingga 10 tahun lalu memiliki kemampuan berpikir matematis jauh lebih mumpuni dibanding mahasiswa baru saat ini.

Indah menyampaikan pernyataan ini kepada wartawan pada Senin (30/3/2026), menanggapi peringatan Hari Matematika Sedunia yang jatuh pada 14 Maret lalu. Penurunan skill matematika ini, menurut pakar Aljabar tersebut, terlihat signifikan setiap momen penerimaan mahasiswa baru di jenjang perguruan tinggi.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Namun, data internasional juga menunjukkan tren serupa yang patut menjadi perhatian serius dunia pendidikan.

Data PISA dan Penelitian Internasional Buktikan Penurunan

Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) lakukan pada tahun 2025 menunjukkan bukti konkret. Dari beberapa bidang yang mereka ujikan, meliputi matematika, literasi, dan sains, skor ketiga bidang tersebut konsisten turun sejak tahun 2015.

Selain itu, penelitian University of Eastern Finland yang British Journal of Educational Psychology terbitkan pada akhir tahun 2023 menemukan pola menarik. Anak-anak menunjukkan minat dan persepsi kompetensi yang positif terhadap Matematika ketika mereka mulai bersekolah.

Akan tetapi, minat dan persepsi kompetensi siswa terhadap Matematika berubah menjadi kurang positif pada tiga tahun pertama setelah mereka bersekolah di sekolah dasar. Pelajaran matematika kemudian menjadi momok bagi sebagian siswa saat duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Akar Masalah Kemampuan Matematika Mahasiswa yang Menurun

Penurunan kemampuan literasi matematika ini berakar dari pemahaman mahasiswa saat mereka duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Alhasil, kondisi ini mempengaruhi proses pembelajaran mereka di perguruan tinggi secara signifikan.

Indah menjelaskan dengan sederhana, “Jika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama materi matematikanya berkurang, maka di Sekolah Menengah Atas juga berkurang.” Efek domino ini terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi.

Teknologi menjadi salah satu faktor yang jauh mempermudah siswa ketika mengerjakan ujian matematika. Kemudahan akses ke kalkulator, aplikasi penyelesai soal, dan berbagai tools digital membuat siswa kurang melatih kemampuan berpikir matematis mereka secara manual.

Di sisi lain, distraksi fokus dalam proses belajar juga menjadi faktor penyebab penurunan kemampuan matematis generasi sekarang. Media sosial, game online, dan berbagai hiburan digital terus-menerus mengganggu konsentrasi pelajar saat belajar matematika.

“Di sinilah peran pengajar menjadi krusial karena perlu menyajikan pengalaman matematika yang beragam untuk menjaga konsistensi dan fokus para pelajar,” ujar Indah menekankan tanggung jawab pendidik dalam situasi ini.

Solusi Konkret Meningkatkan Skill Matematika

Indah menegaskan bahwa satu-satunya treatment untuk menguasai matematika hanya dengan berlatih. Tidak ada jalan pintas atau metode ajaib yang bisa menggantikan latihan konsisten.

Pakar Aljabar tersebut mengatakan bahwa kebiasaan berlatih mengerjakan soal-soal dapat menstimulasi otak dan meningkatkan kemampuan berlogika, bahkan untuk soal-soal yang mudah sekalipun. Dengan berlatih secara rutin, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi mereka sendiri.

Bahkan, latihan yang konsisten memungkinkan mereka untuk fokus pada aspek matematika yang sesuai dengan minat mereka. Metode ini terbukti lebih efektif dibanding hanya mengandalkan penjelasan teoritis tanpa praktik.

Selain itu, pendekatan pengajaran juga perlu inovasi. Indah berbagi pengalaman mengajarnya, “Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar.”

Biasanya, Indah memberikan motivasi terlebih dahulu kepada mahasiswanya, kemudian memasukkan teori dengan cara yang menarik. Setelah mahasiswa memahami konsep dasar, barulah Indah mengajak mereka untuk menerapkan teori tersebut dalam praktik.

Peran Regulasi dan Kurikulum Fleksibel

Membentuk generasi muda dengan budaya sains yang kental menurutnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi jika tanggung jawab hanya tertumpah kepada pendidik atau keluarga saja.

Peran regulasi yang menentukan porsi belajar juga sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran matematika. Indah menyampaikan pandangan kritisnya tentang sistem kurikulum yang terlalu kaku.

“Kurikulum seharusnya membebaskan, jangan terlalu dibatasi oleh pemerintah. Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika,” imbuh Indah menjelaskan pentingnya fleksibilitas akademik.

Di lingkup perguruan tinggi, kampus sebaiknya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari bidang lain yang mereka minati. Langkah ini, menurut Indah, dapat membantu mahasiswa memiliki kemampuan berpikir yang lebih komprehensif.

Eksplorasi lintas disiplin ilmu juga dapat meningkatkan kapasitas otak untuk memahami konsep-konsep yang lebih kompleks dalam bidang matematika. Ketika mahasiswa mempelajari aplikasi matematika dalam berbagai bidang, mereka akan lebih memahami relevansi dan pentingnya matematika.

Tantangan Dunia Pendidikan Matematika 2026

Fakta penurunan kemampuan matematika mahasiswa ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan serius. Data PISA yang konsisten menurun sejak 2015 hingga survei 2025 membuktikan bahwa masalah ini bersifat sistemik dan memerlukan solusi komprehensif.

Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran justru berpotensi menghambat perkembangan kemampuan berpikir matematis jika tidak pendidik kelola dengan baik. Oleh karena itu, strategi pembelajaran perlu pendidik adaptasi dengan kondisi zaman.

Meski begitu, harapan masih terbuka lebar. Dengan kombinasi latihan rutin, metode pengajaran yang menarik, kurikulum yang fleksibel, dan dukungan dari semua pihak, kemampuan matematika mahasiswa Indonesia masih bisa pendidik tingkatkan kembali.

Intinya, mengembalikan kejayaan kemampuan matematika mahasiswa Indonesia membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Pendidik perlu berinovasi dalam metode mengajar, mahasiswa perlu disiplin berlatih, dan pembuat kebijakan perlu memberikan fleksibilitas kurikulum yang mendukung eksplorasi akademik lebih luas.