Realita Bengkulu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di Sumatera Selatan (Sumsel) akan mulai berlangsung pada Mei 2026. Puncak kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis menyampaikan prakiraan tersebut di Palembang, Senin kemarin. Menurutnya, sejumlah wilayah di Sumsel berpotensi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan daerah lainnya.
Berdasarkan analisis iklim yang BMKG lakukan, pola musim kemarau tahun ini akan bervariasi di berbagai zona musim (ZOM) di Sumatera Selatan. Bahkan, beberapa wilayah akan merasakan dampak kekeringan dengan intensitas berbeda-beda.
Wilayah yang Alami Puncak Kemarau Lebih Awal
Analisis BMKG menunjukkan bahwa puncak musim kemarau lebih dulu terjadi di Zona Musim 125 dan 135. Kedua wilayah ini berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal satu bulan dari kondisi normal.
Wandayantolis menjelaskan, ZOM 125 meliputi beberapa daerah strategis seperti Palembang, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, dan Ogan Ilir. Sementara itu, ZOM 135 mencakup wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Tidak hanya itu, sebanyak 12 ZOM lainnya di Sumatera Selatan diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Artinya, hampir seluruh wilayah provinsi ini akan merasakan dampak kemarau dengan intensitas tinggi pada pertengahan tahun.
Ada Wilayah yang Terlambat Alami Puncak Kemarau
Menariknya, tidak semua wilayah akan mengalami puncak kemarau di waktu yang sama. ZOM 137 justru diprediksi mengalami puncak kemarau lebih lambat sekitar satu bulan dari kondisi normal.
Wilayah ZOM 137 ini meliputi Pagar Alam, Lahat bagian selatan dan barat, sebagian kecil Musi Rawas bagian selatan, serta sebagian kecil Empat Lawang bagian timur. Pola berbeda ini perlu masyarakat setempat pahami agar bisa melakukan antisipasi yang tepat.
Durasi dan Intensitas Musim Kemarau 2026
BMKG memperkirakan durasi musim kemarau di Sumatera Selatan tahun ini akan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian. Dengan kata lain, kemarau akan terjadi selama sekitar tiga hingga lima bulan lamanya.
Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah wilayah Sumsel bagian tengah. Wandayantolis menyebutkan, kawasan ini diprediksi mengalami kemarau terlama, yakni sekitar 13 hingga 15 dasarian.
Durasi kemarau yang cukup panjang ini tentu akan berdampak signifikan terhadap berbagai sektor. Mulai dari pertanian, ketersediaan air bersih, hingga potensi bencana kebakaran hutan dan lahan.
Potensi Dampak yang Perlu Diwaspadai
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang akan datang. Beberapa risiko utama yang perlu diantisipasi antara lain potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta keterbatasan air bersih.
Kebakaran hutan dan lahan memang menjadi ancaman serius saat musim kemarau tiba. Apalagi dengan durasi kemarau yang diprediksi cukup panjang, terutama di wilayah tengah Sumsel.
Selain itu, sektor pertanian juga perlu menyiapkan strategi adaptasi. Petani harus mulai merencanakan pola tanam yang sesuai dengan prediksi curah hujan dan durasi kemarau di wilayah masing-masing.
Pemerintah Daerah Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan
Merespons prakiraan BMKG ini, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau 2026. Langkah-langkah konkret perlu segera pemerintah siapkan untuk meminimalkan dampak negatif.
Pengendalian titik panas menjadi salah satu prioritas utama yang harus pemerintah daerah lakukan. Monitoring secara berkala dan koordinasi dengan berbagai pihak akan sangat membantu mencegah terjadinya kebakaran lahan.
Kemudian, pengelolaan sumber daya air juga menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga, terutama di wilayah-wilayah yang akan mengalami kemarau panjang.
Pembangunan infrastruktur penampungan air, perbaikan sistem irigasi, dan edukasi kepada masyarakat tentang penghematan air menjadi beberapa langkah yang bisa pemerintah ambil. Dengan persiapan matang, dampak negatif musim kemarau dapat diminimalkan.
Prakiraan BMKG tentang musim kemarau Sumsel 2026 ini menjadi informasi penting bagi semua pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah daerah perlu melakukan persiapan sejak dini agar dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih baik dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.






