Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan dunia internasional. Kali ini, beliau melanjutkan rangkaian kunjungan kerja luar negeri dengan bertolak ke Yordania setelah menyelesaikan sejumlah agenda penting di London, Inggris. Kunjungan yang berlangsung pada Februari 2026 ini bukan sekadar perjalanan diplomatik biasa — ada makna historis yang sangat besar di baliknya.
Tahun 2026 menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Yordania. Tiga perempat abad persahabatan yang telah melewati berbagai dinamika politik global, dan kini dirayakan dengan pertemuan langsung antara dua pemimpin negara. Sebuah momen yang layak dicatat dalam sejarah diplomasi Indonesia.
Lawatan Maraton Prabowo: Dari Washington hingga Amman
Untuk memahami konteks penuh kunjungan Prabowo ke Yordania, kita perlu melihat gambaran besarnya. Perjalanan diplomatik ini bukan dimulai dari London, melainkan dari Washington DC, Amerika Serikat — pusat kekuatan politik dunia.
Rangkaian lawatan ini bisa dibilang sebagai salah satu perjalanan diplomatik paling ambisius yang pernah dilakukan oleh seorang presiden Indonesia dalam satu rangkaian kunjungan. Tiga benua, tiga agenda besar, dan semuanya saling terhubung dalam satu visi: memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Mari kita telusuri satu per satu.
Washington DC: Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF untuk Gaza
Perjalanan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026, ketika Presiden Prabowo menghadiri pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Washington DC. Forum ini membahas situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait stabilisasi Gaza yang masih menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Dalam pertemuan tersebut, diumumkan bahwa Indonesia akan mengemban peran sebagai Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) — sebuah pasukan stabilisasi internasional untuk Gaza. Ini bukan peran kecil. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu aktor utama dalam upaya perdamaian di Timur Tengah, sejajar dengan negara-negara besar lainnya.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam ISF menegaskan komitmen yang sudah lama dipegang: bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan Indonesia tidak akan tinggal diam ketika ada ketidakadilan di belahan dunia manapun. Prinsip ini bukan sekadar retorika — dengan peran di ISF, Indonesia membuktikannya lewat aksi nyata.
Perjanjian Dagang Indonesia-AS: Agreement on Reciprocal Trade
Masih di Washington DC, momen bersejarah lainnya terjadi. Presiden Prabowo dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump duduk bersama dan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade — sebuah perjanjian dagang timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Kenapa ini penting? Karena selama bertahun-tahun, hubungan dagang Indonesia-AS sering dianggap timpang. AS adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, tetapi dinamika perdagangan global yang penuh ketidakpastian — mulai dari perang dagang, proteksionisme, hingga disrupsi rantai pasok — membuat kedua negara perlu duduk bersama dan menyusun kerangka kerja yang lebih adil.
Dengan perjanjian ini, diharapkan hubungan ekonomi Indonesia-AS bisa berjalan lebih setara dan saling menguntungkan. Produk-produk Indonesia bisa mendapat akses pasar yang lebih baik di AS, sementara investasi dan teknologi AS bisa mengalir lebih lancar ke Indonesia. Sebuah langkah yang, jika dieksekusi dengan baik, bisa memberikan dampak signifikan bagi perekonomian kedua negara.
London: Kerja Sama Teknologi Semikonduktor dengan Arm Limited
Setelah agenda di Washington DC rampung, Presiden Prabowo bertolak ke London, Inggris. Di sini, pada Senin, 23 Februari 2026, beliau menyaksikan penandatanganan perjanjian kerangka kerja antara Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia (BPI Danantara) dan Arm Limited.
Bagi yang belum familiar, Arm Limited adalah raksasa teknologi global yang berbasis di Cambridge, Inggris. Perusahaan ini mendesain arsitektur chip yang digunakan oleh hampir semua smartphone di dunia — dari iPhone hingga Samsung Galaxy. Jadi ketika Indonesia menjalin kerja sama dengan Arm, ini bukan main-main.
Kerja sama ini diproyeksikan membuka peluang besar bagi Indonesia di sektor teknologi semikonduktor dan desain chip. Di era di mana chip menjadi “minyak baru” dalam perekonomian global, langkah ini sangat strategis. Indonesia tidak ingin sekadar menjadi konsumen teknologi — pemerintahan Prabowo menunjukkan ambisi untuk menjadi bagian dari rantai pasok teknologi global.
Bayangkan jika Indonesia bisa menjadi salah satu hub desain chip di Asia Tenggara. Itu bukan hanya soal prestise, tetapi juga soal kedaulatan teknologi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi untuk generasi muda Indonesia.
Tiba di Amman: Prabowo Disambut di Bandara Militer Marka
Setelah menyelesaikan agenda di London, Presiden Prabowo bertolak ke destinasi ketiga dan terakhir dalam rangkaian lawatan ini: Amman, Yordania.
Presiden tiba di Bandara Militer Marka, Kerajaan Yordania Hasyimiah, pada Selasa malam, 24 Februari 2026, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Kedatangan beliau disambut dengan upacara protokoler yang mencerminkan penghormatan tinggi dari pihak Yordania.
Di Yordania, Presiden Prabowo dijadwalkan bertemu langsung dengan Raja Abdullah II bin Al Hussein. Pertemuan antara dua pemimpin ini diharapkan bisa memperkuat kerja sama bilateral di berbagai bidang — mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga keagamaan.
75 Tahun Indonesia-Yordania: Persahabatan yang Teruji Waktu
Hubungan diplomatik Indonesia dan Yordania telah terjalin sejak tahun 1951. Selama 75 tahun, kedua negara telah membangun kerja sama yang mencakup berbagai aspek kehidupan bernegara.
Di bidang politik, Indonesia dan Yordania sering kali memiliki pandangan yang sejalan dalam isu-isu internasional, terutama terkait Palestina dan perdamaian di Timur Tengah. Kedua negara sama-sama vokal menyuarakan kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.
Di bidang ekonomi, meskipun volume perdagangan masih relatif kecil dibandingkan mitra dagang utama Indonesia, potensi untuk peningkatan masih sangat besar. Produk-produk Indonesia seperti minyak sawit, tekstil, dan produk manufaktur memiliki pasar di Yordania dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas.
Di bidang budaya dan keagamaan, ikatan antara Indonesia dan Yordania terasa sangat kuat. Sebagai dua negara berpenduduk mayoritas Muslim, pertukaran budaya dan keagamaan — termasuk kerja sama dalam pendidikan Islam — telah menjadi pilar penting dalam hubungan bilateral.
Nuansa Ramadan dalam Kunjungan Diplomatik
Ada satu aspek yang membuat kunjungan Prabowo ke Yordania terasa semakin istimewa: bulan Ramadan. Kunjungan ini berlangsung di awal bulan suci Ramadan, ketika umat Muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa.
Berkunjung ke Yordania — negara berpenduduk mayoritas Muslim — di bulan Ramadan memberikan nuansa kebersamaan spiritual yang sangat kuat. Ini bukan sekadar diplomasi politik dan ekonomi, tetapi juga diplomasi hati. Momen berbuka puasa bersama, misalnya, bisa menjadi simbol persaudaraan yang melampaui batas-batas negara.
Strategi Diplomasi Multi-Front Pemerintahan Prabowo
Jika kita melihat keseluruhan rangkaian lawatan ini, ada pola yang sangat jelas: diplomasi multi-front. Pemerintahan Prabowo tidak hanya fokus pada satu aspek, tetapi menggabungkan berbagai kepentingan strategis dalam satu perjalanan.
- Keamanan dan perdamaian — lewat peran di ISF untuk stabilisasi Gaza
- Ekonomi dan perdagangan — lewat perjanjian dagang timbal balik dengan AS
- Teknologi dan inovasi — lewat kerja sama semikonduktor dengan Arm Limited di Inggris
- Diplomasi bilateral dan persahabatan — lewat perayaan 75 tahun hubungan dengan Yordania
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tidak ingin menjadi penonton dalam dinamika geopolitik global. Sebaliknya, Indonesia ingin menjadi pemain aktif yang suaranya didengar dan perannya diperhitungkan.
Apa Artinya bagi Rakyat Indonesia?
Bagi masyarakat awam, lawatan presiden ke luar negeri mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Tetapi dampaknya bisa sangat nyata. Perjanjian dagang dengan AS bisa berarti lebih banyak lapangan kerja di sektor ekspor. Kerja sama teknologi dengan Arm bisa berarti Indonesia kelak memiliki industri semikonduktor sendiri. Peran di ISF bisa memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang cinta damai dan dipercaya komunitas internasional.
Semua ini adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terasa besok atau lusa, tetapi benih-benih yang ditanam hari ini bisa tumbuh menjadi pohon besar yang memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Kita tunggu saja hasil konkret dari setiap kesepakatan yang telah ditandatangani. Yang jelas, langkah diplomasi aktif ini menunjukkan bahwa Indonesia serius ingin memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia — dan itu adalah sesuatu yang patut kita apresiasi bersama.






