Realita Bengkulu – Israel melakukan serangan rudal terhadap kendaraan jurnalis di Lebanon Selatan pada hari Sabtu, 28 Maret 2026, menewaskan tiga wartawan yang sedang meliput konflik berlangsung. Insiden tragis ini mengguncang dunia jurnalisme dan memicu kecaman keras dari pemerintah Lebanon yang menyebut pembunuhan tersebut sebagai kejahatan perang yang terang-terangan.
Ketiga jurnalis yang meninggal dalam serangan itu ialah Ali Shoeib dari stasiun televisi al-Manar, Fatima Ftouni, saudara laki-lakinya Mohammed Ftouni, serta juru kamera dari jaringan media Almayadeen. Mereka sedang berkendara bersama dalam satu mobil ketika serangan terjadi di kawasan Jezzine, sebuah distrik yang terletak jauh dari garis depan pertempuran.
Serangan Rudal Presisi Menewaskan Jurnalis
Peristiwa mengerikan terjadi ketika ketiga jurnalis sedang melakukan pekerjaan liputan mereka di Jezzine. Menurut laporan dari stasiun televisi lokal, setidaknya empat rudal presisi ditembakkan langsung ke arah kendaraan para wartawan tersebut.
Footage video yang beredar menunjukkan momen rudal melesat di antara mobil wartawan dan orang-orang di sekitarnya yang mencoba mendekat untuk memberikan bantuan. Akibatnya, jaket, helm, tripod kamera, dan peralatan mikrofon terbakar di lokasi kejadian. Kondisi sisa-sisa kendaraan menunjukkan intensitas ledakan yang sangat dahsyat.
Korban jiwa tidak hanya berhenti di tiga jurnalis tersebut. Setelah ambulans tiba di lokasi, paramedis yang berusaha menyelamatkan korban juga menjadi sasaran serangan. Insiden ini mengakibatkan kematian salah satu petugas paramedis, mencerminkan pola nyata untuk menargetkan tidak hanya awak media tetapi juga pekerja kemanusiaan yang berusaha membantu.
Fatima Ftouni: Koresponden Lapangan yang Berdedikasi
Jaringan media Almayadeen mengonfirmasi syahidnya koresponden mereka di Lebanon Selatan, Fatima Ftouni, pada Sabtu malam. Dalam pernyataan resmi, jaringan tersebut mengatakan bahwa Fatima telah berada di lapangan untuk meliput agresi Israel yang sedang berlangsung, melakukan pekerjaan yang dikenal dan dicintainya.
Ali Shoeib: Tiga Dekade Meliput Konflik Lebanon-Israel
Stasiun televisi al-Manar turut berduka cita atas kepergian Ali Shoeib, seorang koresponden yang dikenal dengan gelar kehormatan Hajj Ali Shoeib oleh rekan-rekan dan pejuang di lapangan. Sejak tahun 1992, ia telah menjadi anggota garis depan di Lebanon Selatan, melakukan pekerjaan jurnalisme selama lebih dari tiga dekade lamanya.
Karir Ali Shoeib mencakup liputan hampir setiap konfrontasi signifikan antara Lebanon dan Israel. Ia hadir selama agresi Israel pada tahun 1993, bergerak di antara desa-desa yang terkena serangan sementara pesawat F-16 terbang di atasnya. Ketika Operasi Grapes of Wrath berlangsung pada tahun 1996, lensanya merekam peristiwa penting tersebut.
Pada tahun 2000 saat pembebasan wilayah selatan, Ali Shoeib berada di garis depan untuk mendokumentasikan penarikan pasukan Israel dan kolaborator mereka di samping senapan para pejuang yang berhasil mengusir mereka. Tidak lama kemudian, ketika perang berlangsung pada Juli 2006, ia memposisikan diri di sektor timur untuk meliput pertempuran paling sengit.
Bahkan pada hari gencatan senjata diumumkan pada fajar hari tersebut, Ali Shoeib tercatat menjadi salah satu jurnalis pertama yang memasuki wilayah Maroun al-Ras, jauh sebelum tentara Israel meninggalkan rumah tempat mereka berlindung. Pria yang diancam berulang kali dan pernah mengalami luka ini tidak pernah mundur dari tanggung jawabnya.
Konteks Serangan dan Respons Internasional
Serangan terhadap jurnalis ini terjadi dalam konteks eskalasi konflik Israel-Hizbullah yang terus meningkat di Lebanon. Pemerintah Lebanon secara resmi mengutuk insiden ini dan menyatakan bahwa pembunuhan wartawan dan paramedis merupakan kejahatan perang yang jelas dan terang-terangan.
Kematian ketiga jurnalis dan seorang paramedis ini menambah daftar panjang korban sipil dan pekerja kemanusiaan yang tewas dalam konflik. Dunia internasional mengakui risiko ekstrem yang dihadapi jurnalis ketika meliput zona konflik, namun serangan langsung terhadap kendaraan yang jelas tertanda sebagai pers menunjukkan skalai pelanggaran hukum humaniter.
Warisan Jurnalisme Berani di Tengah Perang
Ali Shoeib bukan hanya meliput perlawanan rakyat Lebanon dari jauh. Ia tinggal bersama mereka, berbagi risiko dan pengalaman selama tiga puluh tahun sampai akhir karirnya. Dedikasinya menginspirasi generasi jurnalis lain untuk terus merekam cerita-cerita penting meski dalam kondisi berbahaya.
Kehidangan ketiga jurnalis muda dan berpengalaman ini mengingatkan dunia tentang pengorbanan yang dijalani para pekerja media untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi di tengah konflik bersenjata. Mereka memilih berada di lapangan, mengambil risiko hidup mereka, untuk memastikan dunia mengetahui apa yang benar-benar terjadi.
Hajj Ali Shoeib dan rekan-rekannya meninggalkan jejak dalam sejarah jurnalisme Lebanon. Keberanian mereka dalam meliput konflik dari garis depan, meski tanpa perlindungan penuh, mencerminkan komitmen mendalam terhadap kebenaran dan tanggung jawab pers. Kematian mereka menekankan urgensitas perlindungan jurnalis internasional dan pekerja kemanusiaan dalam zona perang, serta pentingnya menghormati prinsip dasar hukum humaniter yang melindungi mereka yang tidak ambil bagian dalam pertempuran.






