Realita Bengkulu – PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mencatat laba bersih sebesar Rp 40,02 miliar sepanjang 2026, turun 38% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 65 miliar. Penurunan laba ini sejalan dengan kontraksi pendapatan usaha perusahaan dari Rp 4,9 triliun menjadi Rp 3,59 triliun dalam periode yang sama.
Meski menghadapi tantangan di sisi profitabilitas, WIKA Beton berhasil mengamankan omzet kontrak baru sebesar Rp 4 triliun hingga akhir 2026. Pencapaian ini menunjukkan momentum bisnis yang tetap solid, meskipun laba mengalami penurunan signifikan.
Diversifikasi Portofolio Dorong Perolehan Kontrak Baru
Perolehan kontrak Rp 4 triliun WIKA Beton didorong oleh strategi diversifikasi portofolio yang komprehensif. Sektor infrastruktur menjadi kontributor terbesar dengan porsi 55,53% dari total kontrak baru yang perusahaan raih.
Selain itu, sektor industri menyumbang 17,19%, sementara sektor kelistrikan berkontribusi 11,17%. Sektor pendukung lainnya melengkapi komposisi dengan kontribusi sebesar 16,11%. Strategi ini memastikan WIKA Beton tidak bergantung pada satu sektor saja.
Basis Pelanggan Dominasi Swasta
Komposisi pelanggan WIKA Beton menunjukkan basis yang seimbang namun cenderung mengandalkan sektor swasta. Pelanggan swasta mendominasi dengan porsi 54,86% dari total kontrak yang perusahaan tangani.
Kontribusi dari badan usaha milik negara (BUMN) mencapai 21,65%, sementara kemitraan strategis melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) atau Joint Operation (JO) menyumbang 18,32%. Serapan internal dari induk usaha menambah portofolio dengan kontribusi sebesar 5,17%.
Kesehatan Finansial Membaik Signifikan
Meskipun laba menurun, kondisi keuangan WIKA Beton menunjukkan perbaikan yang menggembirakan di sisi struktur neraca. Perusahaan berhasil menurunkan total liabilitas sebesar 25,76%, dari Rp 3,5 triliun pada 2025 menjadi Rp 2,60 triliun per akhir 2026.
Penurunan liabilitas ini didorong oleh pelunasan utang usaha senilai Rp 548,64 miliar dan pengurangan utang jangka panjang sebesar Rp 134,32 miliar. Langkah deleveraging ini mencerminkan komitmen manajemen untuk memperkuat struktur modal.
Rasio Utang Membaik Drastis
Perbaikan struktur modal WIKA Beton terefleksi jelas pada penurunan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER). Rasio ini turun dari 95,15% pada 2025 menjadi 70,66% pada akhir 2026, menunjukkan peningkatan kesehatan finansial yang substansial.
Dari aspek likuiditas, tingkat kesehatan perusahaan juga membaik dengan kenaikan current ratio mencapai 130,42%. Metrik ini menunjukkan bahwa WIKA Beton memiliki kemampuan likuiditas yang lebih kuat untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
| Metrik Finansial | 2025 | 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp 65 miliar | Rp 40,02 miliar | -38% |
| Pendapatan Usaha | Rp 4,9 triliun | Rp 3,59 triliun | Menurun |
| Total Liabilitas | Rp 3,5 triliun | Rp 2,60 triliun | -25,76% |
| DER | 95,15% | 70,66% | Membaik |
| Current Ratio | – | 130,42% | Meningkat |
MRT Jakarta Fase 2A Jadi Proyek Unggulan
Salah satu proyek strategis yang menopang kinerja WIKA Beton pada tahun lalu mencakup pekerjaan Railway Systems dan Trackwork pada MRT Jakarta Fase 2A. Perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan Larsen & Toubro Limited untuk mendukung kontraktor utama Sojitz Corporation Ltd dalam mengerjakan proyek Trackwork Paket CP205 senilai Rp 409 miliar.
WTON menyediakan berbagai komponen dan layanan teknis untuk proyek ini. Layanan mencakup produksi dan pemasangan bantalan jalan rel (BJR), produksi beton siap pakai, instalasi jalur kereta, instalasi gardu induk, sistem distribusi tenaga listrik, pemasangan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), hingga instalasi kabel tegangan tinggi bawah tanah 150 kV.
Progres Pembangunan Lampaui Target
Progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A mencapai 55,89% per Desember 2026, melampaui target yang ditetapkan sebesar 53,29%. Sementara itu, progres Paket CP205 khusus mencatat angka 31,48%, menunjukkan momentum pekerjaan yang solid.
Proyek sepanjang 5,8 km ini akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota dan targetnya rampung pada 2029. Pembangunan meliputi tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota yang akan memperkuat infrastruktur transportasi publik ibu kota.
Komitmen Terhadap Standar Internasional
Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, Yushadi, menegaskan komitmen perusahaan terhadap pengembangan solusi transportasi umum yang berkelanjutan. Beliau menekankan bahwa WIKA Beton berkomitmen mewujudkan infrastruktur yang mampu mengatasi tantangan kemacetan ibu kota dengan solusi yang ramah lingkungan.
Yushadi mengungkapkan bahwa kolaborasi strategis dengan Larsen & Toubro Limited membuktikan kapabilitas WIKA Beton dalam menangani proyek infrastruktur kompleks dengan standar internasional. Kemitraan ini menjadi indikasi bahwa perusahaan mampu bersaing di level global dan menjalankan proyek-proyek skala besar dengan ketentuan ketat.
Prospek Pertumbuhan ke Depan
Meskipun laba mengalami penurunan di 2026, WIKA Beton menunjukkan fondasi yang semakin kuat untuk pertumbuhan masa depan. Pencapaian kontrak Rp 4 triliun memberikan backlog proyek yang signifikan untuk periode berikutnya.
Kombinasi antara perbaikan struktur finansial, diversifikasi portofolio, dan kepercayaan klien besar menciptakan posisi yang menguntungkan bagi perusahaan. Selama momentum proyek infrastruktur nasional tetap terjaga, WIKA Beton memiliki peluang untuk meningkatkan performa operasional dan profitabilitas pada tahun-tahun mendatang.






