Tim SAR gabungan memutuskan untuk mengevakuasi satu jenazah korban pesawat ATR 42-500 melalui jalur darat pada hari ini, Senin (19/1/2026). Keputusan ini diambil setelah upaya evakuasi menggunakan helikopter terhalang oleh kondisi cuaca buruk yang melanda lokasi penemuan di sekitar jurang sedalam 200 meter.
Evakuasi Jalur Darat yang Menantang
Kepala Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa evakuasi melalui jalur darat merupakan opsi kedua yang diambil setelah opsi helikopter tidak memungkinkan. “Kemarin kan ada dua opsi. Opsi satu menggunakan heli, namun kondisi cuaca tidak memungkinkan. Jadi kita mengambil opsi kedua melakukan penjemputan lewat darat,” ujar Andi Sultan kepada wartawan, Senin (19/1/2026).
Andi mengakui bahwa rute evakuasi darat memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi. Medan yang ekstrem dan jarak tempuh yang lebih jauh menjadi tantangan utama bagi tim SAR. “Memang cukup jauh ada beberapa jam baru bisa dengan medan yang ekstrem untuk melakukan sampai ke tempat. Karena tim di sana masih stay untuk menunggu teman-teman yang lain,” jelasnya.
Perluasan Area Pencarian
Selain fokus pada evakuasi jenazah, operasi pencarian juga akan diperluas hari ini. Tim gabungan akan menyisir wilayah lain di sekitar lokasi penemuan serpihan pesawat dan korban. “Iya, kalau itu sudah pasti memperluas wilayah yang kemarin kita sudah sisir, akan digeser untuk diperluas,” imbuh Andi Sultan.
Sebelumnya, satu jenazah korban ditemukan di sekitar jurang dengan kedalaman 200 meter. Pihak berwenang terus berupaya mengidentifikasi seluruh korban dan memberikan dukungan kepada keluarga yang terdampak.




