Realita Bengkulu – Sebuah ledakan petasan dahsyat menghancurkan rumah di kawasan Noyontaan, Pekalongan Timur, pada Sabtu 21 Maret 2026 dini hari pukul 02.45 WIB. Peristiwa nahas ini memicu 11 korban dengan luka bakar parah, bahkan beberapa menghadapi risiko amputasi jari akibat luka yang cukup serius.
Ledakan yang menyerupai bom ini bukan sekadar peristiwa biasa. Kekuatan destruksi dari insiden tersebut melampaui ambang normal petasan rakitan, meninggalkan trauma mendalam bagi seluruh warga sekitarnya. Getaran ledakan terasa hingga ke rumah-rumah tetangga, bahkan hingga mengganggu jemaah yang saat itu menggelar takbiran di musala sebelah lokasi kejadian.
Tragedi Melanda Jelang Momen Lebaran
Wahidin, 45 tahun, tetangga yang rumahnya bersebelahan langsung dengan lokasi kejadian, menceritakan detik-detik mencekam itu. Saat itu ia sedang mempersiapkan diri untuk tidur ketika tiba-tiba suara ledakan besar membangunkan dirinya, istrinya, anak-anak, dan saudara yang sedang menginap.
“Saya mau tidur, tiba-tiba ada suara ledakan besar. Anak, istri, sampai saudara saya yang sedang menginap langsung kaget semua,” ungkapnya. Kepanikan langsung melanda. Begitu ia membuka pintu, pemandangan mengerikan terpampang di depan mata.
Kepulan asap tebal membumbung tinggi, menyelimuti puing-puing bangunan yang sudah rata dengan tanah. Wahidin menyebut ledakan itu jauh melampaui bunyi petasan normal yang biasa ia dengar selama ini. Intensitas ledakan membuat semua tetangga berteriak, bahkan ada yang mengira terjadi gempa atau ledakan gas.
Kerusakan Luas Menimpa Rumah Tetangga
Dampak ledakan petasan tidak hanya meratakan rumah lokasi kejadian. Material bangunan yang terpental menghantam rumah Wahidin dengan keras, menyebabkan kerusakan signifikan pada propertinya.
Kaca depan rumahnya pecah total, sekitar 20 lembar eternit rusak parah, dan ratusan genting jatuh berserakan. Beberapa material bahkan terpental jauh ke arah pabrik yang berada di dekatnya, membuktikan seberapa dahsyat ledakan itu.
“Begitu saya keluar, rumah itu sudah roboh. Asap tebal sekali, semua panik. Setelah asap agak hilang, baru kelihatan rumahnya sudah hancur,” ujar Wahidin. Di tengah situasi kacau tersebut, ia melihat langsung empat orang korban terkapar berdarah di lokasi kejadian.
Respons Penyelamatan dan Kondisi Korban
Warga langsung berteriak minta ambulans datang ke lokasi. Namun, kedatangan ambulans membutuhkan waktu cukup lama, sekitar setengah jam sejak ledakan terjadi. Keterlambatan itu membuat beberapa korban harus menunggu penanganan medis intensif.
Koordinator Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Siti Khodijah, Nungki Ardila, membenarkan penerimaan pasien korban ledakan petasan. Dari 11 total korban, tujuh orang sampai ke IGD rumah sakit. Empat orang menjalani rawat jalan, sementara tiga orang lainnya harus dirawat inap dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Mayoritas korban yang dirawat inap mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan berkisar 20 hingga 50 persen dari total luas permukaan tubuh mereka. Nungki mengungkapkan bahwa tim medis harus mengambil tindakan tegas untuk menyelamatkan salah satu korban. “Ada pasien yang harus menjalani tindakan pro-amputasi, karena luka pada jarinya cukup parah akibat ledakan,” ungkapnya.
Meski mengalami luka berat, seluruh korban dipastikan tiba di IGD dalam kondisi sadar dan responsif. Hal ini menjadi angin segar di tengah situasi tragis yang menimpa mereka.
Penyebab Ledakan: Meracik Petasan Secara Ceroboh
Penyelidikan awal mengungkapkan bahwa ledakan berasal dari aktivitas meracik petasan rakitan. Saat diperiksa, dua orang dilaporkan sedang meracik petasan berukuran cukup besar menggunakan metode yang sangat berbahaya dan ceroboh.
Gesekan dan tekanan paksa dari pukulan palu inilah yang diduga kuat memicu ledakan beruntun yang hebat. “Sesaat setelah pemadatan dengan cara dipukul menggunakan obeng minus dan palu, terjadi ledakan,” jelas AKP Seryanto. Petasan yang berukuran lebih kecil kemudian menjadi pemicu ledakan yang menjalarkan energi ke seluruh petasan lainnya.
Barang Bukti dan Daya Ledak Medium
Dari hasil penyisiran di tempat kejadian perkara (TKP), polisi berhasil menyita 41 selongsong petasan dalam kondisi berbeda. Sebanyak 35 selongsong sudah terisi penuh dengan bahan peledak, sementara 6 lainnya masih kosong.
Diduga, bahan peledak yang diracik oleh para pelaku mencapai berat sekitar 1,5 kilogram. Untuk sisa bubuk petasan tidak ditemukan di lokasi karena seluruhnya sudah dimasukkan ke dalam selongsong sebelum ledakan terjadi.
Pihak kepolisian bergerak cepat mengamankan lokasi dan menggandeng Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah untuk menentukan daya ledak pasti dari peristiwa tersebut. “Kami melakukan koordinasi dengan Labfor Polda Jawa Tengah untuk menentukan daya ledak dari peristiwa tersebut. Saat ini proses olah TKP masih berlangsung,” ujar AKP Seryanto.
Berdasarkan perkiraan sementara, kekuatan daya ledak yang diperoleh dari aktivitas peracikan ini masuk kategori medium. Informasi tentang bahan peledak diduga kuat diperoleh para pelaku melalui internet secara online, menunjukkan meningkatnya akses publik terhadap panduan pembuatan petasan berbahaya.
Reaksi Pemimpin Kota dan Peringatan Keras
Insiden mengerikan ini menyita perhatian serius Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid. Berdasarkan laporan awal yang diterima wali kota, total korban yang terdampak mencapai sembilan orang dengan beberapa dalam kondisi kritis.
Wali Kota memberikan peringatan keras kepada seluruh warganya untuk menghentikan tradisi berbahaya meracik maupun menyalakan petasan jenis apapun. “Kita tidak bosan-bosan mengimbau, jangan sampai mencari penyakit sendiri dengan petasan. Lebaran itu momen kebahagiaan, bukan risiko,” tegasnya dengan nada yang penuh keseriusan.
Wali Kota mengakui kaget dengan berita tersebut. “Saya juga dikagetkan dengan berita itu. Ada ledakan petasan, rumah roboh, dan sejumlah korban,” katanya. Peringatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah kota untuk mengurangi insiden serupa di masa mendatang, khususnya menjelang perayaan besar seperti Lebaran.
Penyelidikan Berlanjut untuk Menjerat Pelaku
Pihak kepolisian terus mendalami kasus tersebut guna memastikan ada tidaknya unsur kelalaian maupun pelanggaran pidana yang dapat menjerat para pembuat petasan maut ini. Proses investigasi masih berlangsung dengan melibatkan berbagai lembaga terkait.
Selain mengamankan TKP dan mengumpulkan barang bukti, polisi juga melakukan wawancara intensif dengan para saksi dan korban yang sempat sadar. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran lengkap tentang kejadian sebelum ledakan terjadi serta mengidentifikasi apakah ada pihak lain yang terlibat dalam peracikan petasan berbahaya ini.
Tragedi ledakan petasan di Pekalongan 2026 ini menjadi reminder keras bagi publik tentang bahaya ekstrem dari aktivitas meracik dan menyalakan petasan. Dengan 11 korban luka bakar parah dan risiko amputasi yang mengancam beberapa diantaranya, peristiwa ini menunjukkan betapa sepele keputusan untuk bermain-main dengan bahan peledak bisa mengubah hidup ratusan orang. Peringatan dari pemerintah kota perlu disertai dengan aksi nyata masyarakat untuk meninggalkan tradisi petasan yang membahayakan jiwa.






