Realita Bengkulu – Supinah, ibu dari Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon yang gugur dalam penugasan di Lebanon, mengungkapkan putranya selalu rutin memberi kabar selama menjalankan tugas. Farizal menghubungi keluarga melalui WhatsApp dan video call setiap hari, bahkan ketika kondisi di Lebanon semakin darurat.
Komunikasi terakhir dengan sang ibu justru mengungkap situasi mencekam di wilayah penugasan. Farizal menceritakan bagaimana dirinya dan rekan-rekan sering harus masuk bunker untuk berlindung dari ancaman bahaya.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang tinggal di Ledok, Kelurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Supinah berbagi cerita tentang sosok putranya kepada wartawan di rumah duka pada Selasa (31/3).
Komunikasi Rutin Lewat Video Call Setiap Hari
Supinah menceritakan betapa dekatnya hubungan komunikasi dengan Farizal. Bahkan ketika putranya bertugas di Papua sebelumnya, sang anak selalu memberi kabar kepada kedua orang tuanya.
“Apa-apa itu bilang walaupun tengah di Papua, semua bilang ke saya, ke ayahnya, setiap saat itu WA,” ungkap Supinah dengan suara bergetar.
Selain itu, ketika Farizal bertugas di Lebanon, intensitas komunikasi bahkan meningkat. Prajurit muda ini kerap melakukan video call dengan keluarga untuk menjaga kedekatan meski terpisah jarak ribuan kilometer.
“Iya setiap hari komunikasi, kalau malamnya sini, sana siang, setiap hari video call, sama saya, sama bapaknya, terus sambungkan ke cucu di Aceh,” jelas Supinah mengenai rutinitas komunikasi keluarga.
Menariknya, Farizal tidak hanya menghubungi orang tua, tetapi juga memastikan komunikasi dengan istri dan anaknya yang tinggal di Aceh tetap terjaga. Video call ini menjadi jembatan emosional yang menguatkan ikatan keluarga di tengah jarak dan waktu yang berbeda.
Kondisi Darurat Lebanon: Masuk Bunker Setiap Saat
Dari percakapan rutin inilah keluarga mengetahui kondisi terkini di Lebanon. Farizal menceritakan situasi yang semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir sebelum tragedi.
“Akhir-akhir ini agak darurat mas, setiap saat masuk ke bunker berapa jam, terus nanti kalau aman keluar. Katanya kalau ada sirine itu harus masuk bunker,” cerita Supinah menirukan penjelasan putranya.
Namun, meski situasi berbahaya, Farizal tetap menjalani tugas dengan penuh tanggung jawab. Sang prajurit menjelaskan prosedur keselamatan yang harus tim patuhi setiap kali sirine peringatan berbunyi.
Prosedur standar mengharuskan seluruh personel segera berlindung ke dalam bunker begitu alarm berbunyi. Mereka harus bertahan di dalam bunker selama beberapa jam hingga situasi aman kembali.
Akibatnya, rutinitas harian pasukan perdamaian PBB asal Indonesia ini sering terganggu oleh ancaman yang datang sewaktu-waktu. Ketidakpastian kapan sirine akan berbunyi membuat mereka harus selalu siaga setiap saat.
Oleh karena itu, keluarga di Tanah Air hidup dalam kekhawatiran setiap harinya. Meski Farizal selalu berusaha menenangkan keluarga, kondisi lapangan yang ia ceritakan justru memperlihatkan tingkat bahaya yang tinggi.
Dijadwalkan Pulang Mei 2026 Setelah Setahun Bertugas
Tragedi ini terasa semakin menyayat karena Farizal sebenarnya akan segera pulang ke Tanah Air. Sang prajurit telah menyelesaikan hampir seluruh masa tugasnya di Lebanon.
“Akhir April ini selesai, terus Mei pulang, sudah ada jadwal penerbangan, saya sudah menerima kirimnya, jadwalnya. Pokoknya bulan Mei, kan pasukan bagi berapa kelompok,” ungkap Supinah dengan nada penuh penyesalan.
Farizal mulai bertugas di Lebanon sejak April 2026. Ini berarti sang prajurit telah hampir menyelesaikan penugasan selama satu tahun penuh di zona konflik.
Bahkan, jadwal penerbangan kepulangan sudah keluarga terima. Supinah sempat melihat detail jadwal yang menunjukkan Farizal akan kembali ke Indonesia pada bulan Mei 2026.
Dengan demikian, tinggal hitungan minggu lagi sebelum Farizal bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Harapan untuk segera memeluk anak dan suami telah begitu dekat, namun takdir berkata lain.
Sistem rotasi pasukan memang membagi personel dalam beberapa kelompok kepulangan. Farizal masuk dalam salah satu kelompok yang pemerintah jadwalkan pulang pada Mei 2026, tepat setelah menyelesaikan masa tugas satu tahun.
Cita-Cita Jadi TNI Sejak SMA Ikuti Jejak Paman
Bagi Farizal, menjadi anggota TNI bukan sekadar pekerjaan, tetapi perwujudan mimpi masa kecil. Sejak duduk di bangku SMA, Farizal sudah mantap ingin mengabdi sebagai prajurit.
“Dari SMA kan itu senangnya itu cita-citanya TNI. Saya suruh kuliah nggak mau katanya, jadi itu TNI. Adik bapaknya di Cirebon juga inginnya kayak om,” kenang Supinah tentang tekad putranya.
Ternyata, inspirasi Farizal untuk menjadi prajurit datang dari sosok pamannya yang juga berkarier di TNI. Sang paman yang bertugas di Cirebon menjadi role model bagi Farizal sejak kecil.
Meski begitu, orang tua sebenarnya menawarkan pilihan lain. Supinah sempat menyarankan Farizal untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun sang anak sudah bulat tekadnya.
Alhasil, Farizal memilih jalan yang ia yakini sesuai dengan passion-nya. Cita-cita yang ia pegang sejak remaja akhirnya berhasil ia wujudkan dengan menjadi Prajurit Kepala di TNI Angkatan Darat.
Dedikasi Farizal dalam menjalani tugas negara membuktikan keseriusannya. Dari Papua hingga Lebanon, ia selalu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab sambil tetap menjaga komunikasi dengan keluarga.
Sosok Anak yang Perhatian dan Bertanggung Jawab
Kebiasaan Farizal untuk selalu memberi kabar menunjukkan betapa perhatiannya ia terhadap keluarga. Tidak peduli seberapa berat tugas atau seberapa jauh jarak, sang prajurit selalu menyempatkan diri untuk menghubungi orang tua.
Hal ini mencerminkan karakter yang kuat dan nilai-nilai keluarga yang Farizal junjung tinggi. Ia memahami betapa khawatirnya orang tua ketika anaknya bertugas di zona konflik.
Oleh karena itu, komunikasi rutin menjadi cara Farizal menenangkan hati keluarga. Setiap video call dan pesan WhatsApp menjadi pengingat bahwa ia baik-baik saja dan tetap semangat menjalankan tugas.
Lebih dari itu, Farizal juga memastikan hubungan dengan istri dan anak tetap harmonis. Ia selalu meminta orang tuanya menyambungkan panggilan video ke cucu di Aceh agar bisa tetap dekat dengan buah hati.
Kepedulian semacam ini jarang sekali pada prajurit muda di usianya. Farizal berhasil menyeimbangkan antara tugas negara dan tanggung jawab sebagai anak, suami, dan ayah.
Duka Keluarga dan Pengorbanan untuk Negara
Gugurnya Praka Farizal Rhomadhon di Lebanon meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Rumah duka di Kulon Progo menjadi saksi bisu tangis dan kenangan indah yang keluarga simpan.
Supinah kini harus menerima kenyataan pahit bahwa putra kesayangannya tidak akan pernah kembali. Jadwal penerbangan Mei yang sempat membawa harapan kini berubah menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud.
Namun, di balik kesedihan, ada kebanggaan yang keluarga rasakan. Farizal gugur dalam menjalankan tugas mulia sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB, mewakili Indonesia di kancah internasional.
Pengorbanan Farizal menunjukkan dedikasi tinggi para prajurit Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Meski harus berhadapan dengan kondisi darurat dan ancaman setiap saat, mereka tetap menjalankan mandat dengan profesional.
Kisah Farizal juga mengingatkan masyarakat bahwa di balik seragam dan tugas negara, para prajurit adalah manusia biasa yang merindukan keluarga. Mereka adalah anak, suami, dan ayah yang rela berpisah demi mengabdi.
Singkatnya, gugurnya Praka Farizal Rhomadhon menjadi pengingat berharga tentang pengorbanan para pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawa untuk misi perdamaian. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan dan penghiburan di tengah duka yang mendalam.






