Realita Bengkulu – Ekonom Hendry Cahyono mendesak pemerintah mengambil langkah antisipasi segera apabila harga minyak dunia tidak turun dalam waktu dekat. Proyeksi harga BBM 2026 menjadi perhatian serius mengingat situasi serupa pernah terjadi pada 2013, saat harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) mencapai USD 114 per barel, padahal harga minyak dunia sempat menembus USD 100 per barel.
Hendry memberikan dua skenario hitung-hitungan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar minyak bersubsidi yang warga konsumsi sehari-hari. Kebijakan fiskal pemerintah menjadi kunci dalam merespons fluktuasi ini, sebab keputusan cepat pada 2013 mampu mengatasi gejolak ekonomi waktu itu.
Skenario Pertama: Minyak USD 85-92 per Barel
Dengan asumsi harga minyak berada di kisaran USD 85 hingga USD 92 per barel, harga Pertalite berpotensi naik dalam rentang 5 persen hingga 10 persen. Artinya, harga yang sebelumnya Rp 10.000 per liter akan terdorong naik menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter.
Sementara itu, harga solar subsidi juga akan mengalami kenaikan ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari harga sebelumnya Rp 6.800 per liter. Menariknya, dalam skenario ini, defisit APBN masih berada di ambang batas aman, yakni mendekati 3 persen terhadap PDB.
| Jenis Bahan Bakar | Harga Sebelumnya | Estimasi Harga | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Pertalite | Rp 10.000 | Rp 10.500–11.000 | 5%–10% |
| Solar Subsidi | Rp 6.800 | Rp 7.150–7.500 | 5%–10% |
Skenario Kedua: Minyak Melampaui USD 100 per Barel
Jika harga minyak dunia menembus di atas USD 100 per barel dalam waktu yang berkepanjangan, dampak ekonomi akan terasa jauh lebih signifikan. Harga Pertalite dapat melonjak 15 persen hingga 20 persen, bergerak naik menjadi Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter dari harga awal Rp 10.000.
Tidak hanya itu, harga solar subsidi akan terdorong naik ke kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.200 per liter. Skenario ini membawa implikasi fiskal yang lebih berat bagi anggaran negara, karena defisit APBN berpotensi melampaui batas aman.
| Jenis Bahan Bakar | Harga Sebelumnya | Estimasi Harga | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Pertalite | Rp 10.000 | Rp 11.500–12.000 | 15%–20% |
| Solar Subsidi | Rp 6.800 | Rp 7.800–8.200 | 15%–20% |
Risiko Defisit APBN Melampaui Batas Aman
Dalam skenario kedua, Hendry memperingatkan bahwa defisit APBN bisa melampaui 3 persen, tepatnya mencapai sekitar 3,6 persen terhadap PDB jika pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga. Kondisi ini menandakan ancaman keseimbangan fiskal yang lebih serius bagi ekonomi nasional.
Oleh karena itu, respons kebijakan pemerintah menjadi sangat krusial dalam mengatasi tekanan inflasi dan menjaga stabilitas anggaran belanja negara. Pengalaman tahun 2013 menunjukkan bahwa tindakan cepat dan terukur mampu membatasi dampak negatif dari lonjakan harga minyak global.
Pelajaran dari Krisis 2013
Precedent sejarah membuktikan bahwa Indonesia pernah menghadapi tantangan serupa. Pada 2013, saat harga ICP mencapai USD 114 per barel, pemerintah berhasil mengelola situasi melalui kebijakan fiskal yang responsif dan cepat. Hendry menggarisbawahi pentingnya pembelajaran dari pengalaman itu dalam menghadapi volatilitas harga minyak dunia saat ini.
Faktanya, antisipasi dini dan koordinasi kebijakan lintas sektor mampu meredam laju inflasi serta melindungi daya beli masyarakat. Dengan demikian, pemerintah perlu terus mengupayakan langkah-langkah strategis agar dampak kenaikan harga minyak terhadap harga BBM tetap terkontrol dan terukur.
Urgensi Langkah Antisipasi Pemerintah
Menghadapi ketidakpastian harga minyak dunia di 2026, Hendry Cahyono menekankan pentingnya pemerintah mengambil inisiatif antisipasi lebih awal. Selain mempertahankan stabilitas harga bahan bakar, kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan daya beli konsumen dan kesehatan fiskal negara secara bersamaan.
Langkah-langkah yang mungkin perlu pemerintah pertimbangkan mencakup optimasi anggaran subsidi, diversifikasi sumber energi, serta komunikasi transparan kepada publik mengenai kondisi ekonomi global. Menariknya, kombinasi pendekatan ini terbukti efektif dalam menyelamatkan ekonomi nasional dari guncangan eksternal pada periode sebelumnya.
Kesimpulannya, harga BBM 2026 sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia yang masih penuh ketidakpastian. Dalam skenario harga minyak USD 85–92 per barel, kenaikan harga BBM relatif terkontrol dengan defisit APBN masih aman di bawah 3 persen. Akan tetapi, jika harga minyak menembus USD 100 per barel atau lebih, kenaikan harga BBM akan mencapai 15–20 persen dengan defisit APBN berpotensi membengkak hingga 3,6 persen PDB tanpa penyesuaian harga. Pengalaman 2013 menjadi bukti bahwa respons kebijakan yang cepat dan terukur mampu mengontrol situasi. Oleh karena itu, pemerintah harus segera merancang strategi antisipasi yang komprehensif guna melindungi stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar minyak global.






