Ekonomi

Kenaikan Harga BBM 2026 – 25 Negara Alami Lonjakan Tertinggi

Realita Bengkulu – Harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, melampaui USD 110 per barel pada Jumat pekan lalu akibat khawatir meningkat atas gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Gejolak ini memicu kenaikan harga BBM di puluhan negara, termasuk 25 negara yang mengalami lonjakan paling signifikan antara akhir Februari hingga akhir Maret 2026.

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan krisis ini berpotensi menjadi salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah terkini, menambah volatilitas pasar energi dan memberikan tekanan ke atas pada harga bahan bakar di seluruh dunia. Data dari Global Petrol Prices yang menganalisis harga di 150 negara menunjukkan pada minggu kedua Maret 2026, sebanyak 85 negara menaikkan harga bensin seiring tenggelamnya hubungan AS-Iran.

Lonjakan Harga BBM Tertinggi 2026 di Negara-Negara Berkembang

Negara-negara berkembang merasakan dampak paling berat dari fluktuasi harga minyak global. Filipina menjadi salah satu negara dengan kenaikan bensin paling ekstrem, mencapai lebih dari 50%, sementara Nigeria hampir menyusul dengan kenaikan mendekati 49%.

Negara-negara Asia juga mengalami lonjakan signifikan dalam periode yang sama. Myanmar menaikkan harga bensin 55,4%, angka tertinggi di kawasan, diikuti Kamboja dengan kenaikan 52,8%. Lonjakan ini jauh melampaui rata-rata kenaikan di pasar maju, mencerminkan kerentanan ekonomi negara berkembang terhadap fluktuasi harga energi global.

Dampak di Asia Selatan dan Afghanistan

Negara-negara di kawasan Asia Selatan juga mencatat peningkatan harga bahan bakar yang cukup nyata. Pakistan menaikkan harga bensin 24,4% atau setara USD 1,15 per liter, sementara Sri Lanka mencatat kenaikan 33,8% atau USD 1,45 per liter dalam periode yang sama.

Afghanistan mengalami kenaikan yang relatif lebih moderat yakni 7% atau USD 0,98 per liter. Meski persentasenya lebih kecil dibanding negara tetangga, dampak absolut tetap signifikan mengingat daya beli masyarakat yang terbatas di negara tersebut.

Kenaikan Harga Solar Lebih Tajam dari Bensin

Sementara bensin mencatat peningkatan 20-55%, harga solar menunjukkan tren kenaikan yang jauh lebih dramatis di berbagai negara. Dalam periode yang sama, solar mengalami lonjakan lebih tajam lagi dibanding bensin, meskipun angka spesifik untuk setiap negara tidak terperinci dalam data Global Petrol Prices.

Kenaikan solar yang lebih tinggi sangat berpengaruh pada biaya produksi dan transportasi barang, mengingat solar menjadi bahan bakar utama untuk kendaraan komersial dan mesin industri di banyak negara berkembang.

Negara-Negara Maju Juga Terpengaruh Signifikan

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada tidak terlepas dari dampak kenaikan harga energi global. Bensin naik dalam kisaran 25%-30% di kedua negara selama periode Februari-Maret 2026.

Selain itu, harga solar bertambah sekitar 40% di Amerika Serikat dan Kanada, jauh melampaui kenaikan bensin. Meskipun negara maju memiliki daya beli lebih tinggi, kenaikan energi sebesar itu tetap menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan pada konsumen dan industri.

Konteks Global: Peringatan IEA dan Analisis Pasar

Data analisis dari Statista per 25 Maret 2026 menunjukkan momentum kenaikan terus berlanjut. Peringatan dari Badan Energi Internasional menekankan bahwa gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz—jalur kritis bagi aliran minyak global—bisa memicu krisis pasokan besar-besaran.

Faktanya, dari 150 negara yang dianalisis Global Petrol Prices, kenaikan harga BBM mencerminkan ketergantungan ekonomi global pada minyak bumi. Volatilitas ini menunjukkan betapa sensitif pasar energi terhadap geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu jalur distribusi internasional.

Implikasi Ekonomi dan Prospek ke Depan

Kenaikan harga BBM 2026 memiliki efek jangka panjang pada inflasi, transportasi, dan biaya hidup masyarakat. Negara berkembang yang mencatat lonjakan 50%+ akan menghadapi tantangan lebih berat dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli konsumen.

Proyeksi lebih lanjut bergantung pada dinamika geopolitik di Timur Tengah dan keputusan OPEC terkait produksi minyak. Sementara itu, masyarakat dan bisnis di berbagai negara terus beradaptasi dengan lingkungan energi yang lebih mahal dan volatile dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Situasi ini menekankan pentingnya diversifikasi energi dan investasi pada sumber energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dalam jangka panjang. Baik pemerintah maupun sektor swasta perlu mengambil langkah proaktif guna mempersiapkan ekonomi mereka menghadapi volatilitas energi di masa depan.