Realita Bengkulu – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar forum khusus untuk mendengar langsung keluhan dan aspirasi pelaku industri game lokal pada 2026. Langkah ini hadir setelah data menunjukkan pangsa pasar game lokal Indonesia masih tertahan di angka 1 persen, sementara produk impor mendominasi pasar domestik.
Forum ini membuka ruang dialog antara pemerintah dengan para pengembang, investor, dan praktisi game lokal. Tujuannya jelas: mengevaluasi dan memperkuat kebijakan industri game di Tanah Air agar pengembang lokal bisa bersaing di pasar sendiri.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PMK, Leontinus Alpha Edison, menyampaikan apresiasinya terhadap pertumbuhan subsektor game yang terus melesat. Industri ini layak mendapat perhatian serius karena kontribusinya terhadap ekonomi kreatif nasional semakin signifikan.
Game Lokal Indonesia Masih Kuasai 1% Pasar Domestik
Realitas lapangan menunjukkan kondisi yang cukup ironis. Meski pertumbuhan industri game lokal cukup pesat, pangsa pasar mereka di negeri sendiri masih berada di kisaran 1 persen saja per 2026.
Sisanya? Pasar domestik Indonesia justru para pengembang asing kuasai. Game-game impor mendominasi preferensi pemain lokal, mulai dari mobile games hingga PC dan konsol.
Leontinus menekankan perlunya transparansi dalam melihat kondisi ini. Pemerintah tidak bisa hanya melihat sisi positif tanpa mengakui tantangan struktural yang pelaku industri hadapi setiap hari.
“Pemerintah tidak tinggal diam dan telah mendorong percepatan lewat Perpres Nomor 19 Tahun 2024. Semangatnya jelas: kita ingin game buatan lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu unjuk gigi di kancah global,” ujar Leontinus dalam keterangannya.
Ekspor Game Indonesia Tembus 60,8 Juta Dolar AS
Di sisi lain, ada kabar baik yang patut industri game lokal banggakan. Berdasarkan data terbaru 2026, nilai ekspor pengembang game Indonesia berhasil menembus angka 60,8 juta dolar AS.
Pencapaian ini menempatkan subsektor game sebagai penyumbang ekspor terbesar keempat di industri ekonomi kreatif Indonesia. Posisinya hanya kalah dari tiga subsektor papan atas: fesyen, kriya, dan kuliner.
Artinya, game buatan developer Indonesia sebenarnya punya daya saing kuat di pasar global. Banyak game mobile dan PC karya anak bangsa berhasil meraup jutaan unduhan dan menghasilkan revenue signifikan dari pemain luar negeri.
Namun, ironinya justru di sini. Game-game lokal yang laris di luar negeri, belum tentu populer di Indonesia sendiri. Fenomena ini menunjukkan ada gap antara produk yang developer buat dengan preferensi pasar lokal—atau mungkin ada faktor lain seperti marketing, distribusi, dan ekosistem yang belum optimal.
Perpres 19/2024 Jadi Payung Hukum Percepatan Industri
Pemerintah sebenarnya sudah mulai bergerak sejak 2024 dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024. Regulasi ini menjadi payung hukum untuk mendorong percepatan industri game nasional.
Perpres tersebut mengatur berbagai aspek, mulai dari insentif pajak, kemudahan perizinan, hingga skema pendanaan untuk startup game lokal. Tujuannya satu: menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembang game Indonesia agar bisa tumbuh dan bersaing.
Akan tetapi, Leontinus mengakui bahwa regulasi saja tidak cukup. Banyak tantangan struktural di lapangan yang belum tentu sepenuhnya birokrasi baca dalam proses penyusunan kebijakan.
Oleh karena itu, forum ini pemerintah gelar sebagai upaya untuk mendengar langsung dari pelaku industri. Bukan sekadar bicara dari balik meja, tetapi benar-benar memahami pain points yang developer hadapi setiap hari.
Forum Aspirasi: Pemerintah Jadi Pendengar, Industri Jadi Pembicara
Yang menarik dari forum ini adalah posisinya yang forum balik. Biasanya, pemerintah yang berbicara dan industri mendengar. Kali ini, Leontinus meminta pelaku industri yang jadi pembicara utama.
“Siang ini, posisinya forum balik. Pemerintah akan jadi pendengar, dan teman-teman pelaku industri jadi pembicara utamanya. Tolong sampaikan masukan, saran, curhatan soal pain points, atau bahkan kritik pedas sekalipun ke kami. Jangan ada yang ditahan-tahan,” tegas Leontinus.
Pendekatan ini cukup refreshing dan menunjukkan keseriusan pemerintah untuk membuka dialog dua arah. Dengan mendengar langsung dari pengembang, investor, dan praktisi, pemerintah bisa memahami masalah real yang terjadi—bukan hanya data statistik di atas kertas.
Beberapa isu yang kemungkinan pelaku industri angkat antara lain: sulitnya akses pendanaan, biaya marketing yang tinggi, distribusi platform yang masih didominasi pemain asing, hingga kurangnya insentif untuk produksi konten lokal.
Tantangan Game Lokal Indonesia di 2026
Meski data ekspor menunjukkan angka positif, game lokal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan besar di pasar domestik. Pertama, persaingan dengan game asing yang memiliki budget marketing jauh lebih besar.
Kedua, preferensi pemain lokal yang cenderung mengikuti tren global. Game-game viral dari Korea, Jepang, atau China sering kali lebih mudah menarik perhatian ketimbang game buatan developer lokal.
Ketiga, ekosistem distribusi yang belum optimal. Platform digital seperti Google Play Store dan App Store memang terbuka untuk semua developer, tetapi persaingan di sana sangat ketat. Game lokal sering tenggelam di antara ribuan judul baru yang muncul setiap hari.
Keempat, kurangnya dukungan publisher lokal yang kuat. Banyak developer kecil kesulitan menemukan publisher yang mau mendanai dan memasarkan game mereka secara serius.
Terakhir, infrastruktur pendukung seperti event esports, komunitas gamer, dan media coverage untuk game lokal masih perlu pengembangan lebih lanjut. Tanpa ekosistem yang solid, sulit bagi game lokal untuk membangun fanbase loyal di pasar sendiri.
Harapan untuk Masa Depan Game Lokal Indonesia
Forum yang Kemenko PMK gelar ini menjadi langkah awal yang positif. Dengan membuka ruang aspirasi, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya membuat kebijakan sepihak, tetapi melibatkan pelaku industri dalam proses pengambilan keputusan.
Harapannya, dari forum ini akan lahir rekomendasi konkret yang bisa pemerintah implementasikan. Misalnya, skema pendanaan yang lebih mudah, insentif pajak untuk developer kecil, atau program marketing support untuk game lokal.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, developer, publisher, dan platform distribusi perlu terus pemerintah dorong. Hanya dengan sinergi semua pihak, pangsa pasar game lokal Indonesia bisa meningkat dari 1 persen menjadi lebih signifikan di masa depan.
Industri game Indonesia punya potensi besar. Talenta muda kreatif tidak kekurangan, dan beberapa game lokal sudah membuktikan bisa bersaing di pasar global. Tinggal bagaimana ekosistem domestik bisa pemerintah dan pelaku industri ciptakan agar game lokal juga berjaya di negeri sendiri, bukan cuma di luar negeri.






