Realita Bengkulu – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) merespons keluhan pedagang tentang lonjakan harga plastik yang terjadi sejak perayaan Lebaran 2026. Respons tersebut disampaikan langsung ketika Zulhas dan Menteri Perdagangan Budi Santoso menggelar sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Seorang pedagang bernama Gemi, berusia 58 tahun, menyuarakan kekhawatiran tentang naiknya harga plastik hingga sekitar Rp 6 ribu per kemasan sejak seusai Lebaran. Keluhan ini bukan hanya isu lokal di Pasar Minggu, melainkan permasalahan yang dihadapi hampir seluruh pedagang di berbagai wilayah.
Penyebab Lonjakan Harga Plastik Menurut Zulhas
Zulhas menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik terjadi karena biji plastik juga mengalami lonjakan harga drastis. Faktor utama pemicu kenaikan ini adalah plastik merupakan produk berbahan baku minyak bumi yang terimbas oleh meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah belakangan ini.
Kondisi geopolitik global memengaruhi fluktuasi harga komoditas berbasis minyak, termasuk plastik yang menjadi kebutuhan sehari-hari para pedagang. Oleh karena itu, Zulhas berkomitmen mengangkat masalah ini sebagai prioritas dan akan mengundang pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan mendalam tentang penyebab kenaikan harga biji plastik.
Rencana Dialog Menteri untuk Solusi Harga Plastik
Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah akan menggelar pertemuan khusus melibatkan berbagai pihak yang berhubungan dengan industri biji plastik. Zulhas menyatakan, “Kita akan undang beberapa pihak yang terkait mengenai bijah plastik ini.”
Dialog ini diharapkan menghasilkan pemahaman bersama tentang dinamika harga plastik dan mencari solusi yang dapat meringankan beban pedagang. Selain itu, pemerintah juga akan mengevaluasi kemungkinan intervensi kebijakan untuk stabilisasi harga di tingkat produsen maupun konsumen.
Ketahanan Pangan Nasional Tetap Aman Meski Krisis Global
Dalam kesempatan sidak tersebut, Zulhas memastikan bahwa ketahanan pangan nasional tetap solid meskipun terjadi perang di Timur Tengah. Indonesia tidak bergantung pada pasokan pangan dari kawasan tersebut karena telah membangun sistem produksi pangan domestik yang kuat.
“Tidak ada pangan yang bergantung kepada Timur Tengah, tidak ada,” ujar Zulhas dengan tegas. Kebijakan swasembada pangan yang diterapkan pemerintah sejak awal telah membuat Indonesia mandiri dalam penyediaan pangan utama.
Status Pangan Strategis di 2026
Mengenai komoditas strategis seperti gandum, Zulhas menjelaskan bahwa impor gandum berasal dari negara-negara Eropa dan Amerika, bukan dari Timur Tengah. Akibatnya, potensi perang di Timur Tengah tidak mengganggu pasokan gandum Indonesia.
Untuk kedelai, meski Indonesia tidak memproduksi sendiri dalam jumlah penuh, sumbernya juga berasal dari Eropa dan Amerika. Dengan demikian, ketersediaan pangan strategis tetap terjamin tanpa dipengaruhi kondisi Timur Tengah.
Zulhas menambahkan bahwa beras Indonesia pada tahun lalu mencapai surplus sekitar 4 juta ton, dan pemerintah memperkirakan pencapaian serupa akan terulang pada 2026. Tidak hanya beras, jagung, daging ayam, telur, dan sayur-sayuran yang ditanam sendiri juga dalam kondisi aman dan stabil.
Imbauan Pemerintah untuk Masyarakat
Pemerintah meminta masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan tentang dampak konflik geopolitik terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri sudah dipastikan aman dan terkendali oleh pemerintah.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau melakukan panic buying. Perilaku pembelian normal dan terukur akan membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar.
Zulhas mengungkapkan rasa bersyukur atas kebijakan swasembada pangan yang telah diterapkan bertahun-tahun. Strategi ini membuat Indonesia mampu mengantisipasi potensi krisis sejak dini dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan dari negara lain.
Dengan infrastruktur produksi pangan yang solid dan stok yang mencukup, Indonesia siap menghadapi berbagai tantangan eksternal tanpa mengganggu stabilitas pangan masyarakat di tahun 2026 dan seterusnya.






