Realita Bengkulu – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan ketahanan pangan nasional tetap solid pada 2026 meskipun terjadi konflik di Timur Tengah. Indonesia tidak bergantung pada pasokan pangan dari kawasan tersebut, sehingga potensi perang tidak akan menggoyahkan stabilitas pangan dalam negeri.
Zulhas menyampaikan jaminan tersebut usai meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Minggu, Jakarta, pada Sabtu. Pernyataannya menjadi pencerahan bagi masyarakat yang mulai khawatir dengan eskalasi ketegangan geopolitik.
Swasembada Pangan Indonesia: Mandiri di Bidang Pangan
Indonesia telah menerapkan kebijakan swasembada pangan sejak awal, sehingga negara kini mandiri di bidang pertanian pangan. Strategi ini memungkinkan pemerintah mengantisipasi potensi krisis sejak dini tanpa harus bergantung pada impor dari luar.
“Tidak ada pangan yang bergantung kepada Timur Tengah, tidak ada,” terang Zulhas dengan tegas. Pernyataan ini menunjukkan kepercayaan diri pemerintah terhadap kapasitas produksi dalam negeri yang telah berkembang signifikan.
Stok Beras, Jagung, Daging Ayam, dan Telur Surplus 2026
Beras mengalami surplus sekitar 4 juta ton pada tahun lalu, dan Zulhas memproyeksikan volume yang sama akan terulang pada 2026. Dengan proyeksi tersebut, stok beras dari tahun ini hingga tahun depan dijamin aman dan tidak akan mengalami kelangkaan.
Selain beras, Zulhas menyebutkan jagung dalam kondisi aman. Tidak hanya itu, produksi daging ayam juga terjaga dengan baik, begitu pun telur. Sementara itu, sayur-sayuran ditanam dan diproduksi sepenuhnya oleh petani lokal, menghilangkan kebutuhan impor dari luar negeri.
Akan tetapi, ada beberapa komoditas pangan yang memang memerlukan impor karena keterbatasan iklim dan geografi Indonesia. Gandum berasal dari Eropa dan Amerika, sementara kedelai impor juga bersumber dari dua benua yang sama. Zulhas mengakui ketergantungan ini tetapi menekankan bahwa kedua produk tersebut tidak bergantung pada Timur Tengah.
Imbauan Masyarakat: Jangan Panik Berbelanja Pangan
Zulhas mengingatkan masyarakat untuk tidak perlu khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dijamin aman dan terkendali, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pembelian secara berlebihan atau panik buying.
Imbauan ini penting agar harga pangan tetap stabil dan tidak melambung tinggi akibat spekulasi pasar atau hoarding. Kepanikan konsumen justru bisa memicu ketidakseimbangan permintaan dan penawaran yang merugikan semua pihak.
Masalah Harga Plastik: Lonjakan Signifikan Sejak Lebaran
Ketika meninjau pasar, Zulhas mendengarkan keluhan dari pedagang yang menghadapi kenaikan harga plastik secara dramatis. Gemi, seorang pedagang berusia 58 tahun, melaporkan bahwa harga plastik mulai melonjak sejak Lebaran dengan kenaikan mencapai sekitar Rp6.000 per kemasan.
Zulhas mengamini bahwa masalah ini bukan hanya dialami pedagang di Pasar Minggu saja. Faktanya, hampir seluruh pedagang di berbagai tempat menghadapi tantangan yang sama, menunjukkan bahwa ini adalah persoalan sistemik yang memerlukan perhatian serius.
Penyebab Naiknya Harga Biji Plastik dan Respons Pemerintah
Zulhas menjelaskan bahwa harga plastik melonjak tinggi karena biji plastik juga mengalami kenaikan drastis. Mengingat plastik berbahan baku minyak bumi, fluktuasi harga komoditas global langsung mempengaruhi biaya produksi plastik lokal.
Menanggapi persoalan ini, pemerintah berkomitmen untuk membahas masalah kenaikan harga biji plastik secara khusus. Zulhas menyatakan bahwa pihaknya akan mengundang pihak-pihak terkait untuk menjelaskan secara detail penyebab lonjakan harga biji plastik dan mencari solusi bersama.
Langkah proaktif ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas stok pangan, tetapi juga memperhatikan dinamika harga di sektor lain yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dengan melibatkan para pihak terkait, pemerintah berharap dapat menemukan akar masalah dan mengambil tindakan korektif yang tepat sasaran.
Kesimpulan: Ketahanan Pangan RI Solid di Tengah Ketidakpastian Global
Kebijakan swasembada pangan yang diterapkan pemerintah sejak lama kini menunjukkan manfaatnya yang nyata. Indonesia berhasil membangun ketahanan pangan yang solid, mampu menghadapi berbagai tantangan eksternal termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah tanpa harus meragukan ketersediaan pangan di pasar dalam negeri.
Dengan surplus beras 4 juta ton, pasokan jagung, daging ayam, dan telur yang aman, serta produksi sayur-sayuran lokal yang memadai, masyarakat Indonesia dapat bernapas lega. Imbauan pemerintah untuk tidak panik berbelanja menjadi landasan kepercayaan bahwa ketahanan pangan 2026 akan tetap terjaga dengan baik.






