Realita Bengkulu – Pemerintah perlu memperkuat insentif kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak di tengah ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Joshua Pasaribu, Kepala Ekonom Bank Permata, menyampaikan pandangan ini pada Minggu 29 Maret 2026, mengusulkan langkah konkret untuk mengalihkan konsumsi transportasi nasional dari BBM ke energi listrik.
Gangguan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat jalur Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial bagi pasar energi dunia. Pada 2024, aliran minyak melalui jalur strategis tersebut mencapai sekitar 20 juta barel per hari, setara dengan 20 persen dari total konsumsi minyak global. Kondisi semakin memburuk pada Maret 2026, ketika pasokan minyak global turun sekitar 8 juta barel per hari akibat gangguan di kawasan tersebut, sementara harga minyak Brent masih bertengger di kisaran 108 dolar Amerika Serikat per barel per 27 Maret 2026.
Insentif Kendaraan Listrik Terbukti Efektif Mendorong Transisi
Pemerintah telah membuktikan efektivitas insentif melalui kebijakan 2025 yang memberikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah untuk mobil listrik roda empat tertentu dengan kandungan lokal minimal 40 persen hingga Desember 2025. Joshua menilai kebijakan tersebut sangat efektif dalam mendorong pembentukan pasar kendaraan listrik sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem industri domestik.
Insentif memainkan peran besar dalam mempercepat peralihan kendaraan berbasis BBM ke kendaraan listrik, terutama pada tahap awal ketika harga kendaraan masih menjadi hambatan utama bagi konsumen. Tidak hanya itu, stimulus ini juga menciptakan momentum positif bagi industri otomotif lokal untuk berinovasi dan meningkatkan kapasitas produksi.
Pertumbuhan Penjualan Mobil Listrik Melampaui Ekspektasi
Penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat positif, terutama jika dibandingkan dengan kondisi pasar otomotif nasional secara keseluruhan. Sementara pasar otomotif nasional terkontraksi sekitar 10 persen, penjualan kendaraan listrik justru meningkat signifikan, membuktikan bahwa insentif bekerja efektif dalam mempercepat pembentukan pasar segmen ini.
Data wholesales menunjukkan distribusi pabrik ke dealer mencapai 82.525 unit selama Januari–November 2025 dari total penjualan kendaraan nasional 710.084 unit. Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik mencapai level 11,62 persen, sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat baru beberapa tahun lalu segmen ini hampir tidak ada di industri otomotif Indonesia.
| Periode | Penjualan Mobil Listrik (Unit) | Total Penjualan Kendaraan (Unit) | Pangsa Pasar (%) |
|---|---|---|---|
| Januari–November 2025 | 82.525 | 710.084 | 11,62 |
Tantangan Keberlanjutan Pasar Tanpa Insentif Berkelanjutan
Meski pertumbuhan mengesankan, Joshua mewaspadai risiko melambatnya pertumbuhan pasar kendaraan listrik tanpa stimulus baru. Namun, solusi terbaik bukan kembali ke subsidi luas yang memberatkan anggaran negara, melainkan insentif yang lebih presisi dan tertarget.
Insentif yang lebih efisien perlu fokus pada tiga segmen spesifik: pertama, model kendaraan dengan kandungan lokal tinggi untuk mendorong industri manufaktur dalam negeri; kedua, pembeli pertama yang menjadi early adopter dan membantu membangun ekosistem charging; ketiga, armada dengan penggunaan intensif seperti taksi, logistik, dan angkutan umum yang mampu membuktikan efisiensi operasional kendaraan listrik.
Strategi Jangka Panjang Mengurangi Ketergantungan BBM
Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak menjadi semakin mendesak mengingat volatilitas pasar energi global yang terus meningkat. Konflik geopolitik, perubahan iklim, dan transisi energi global menciptakan ketidakpastian pasokan yang berdampak langsung pada harga dan ketersediaan BBM di pasar domestik.
Strategi jangka panjang Indonesia memerlukan pendekatan holistik yang mencakup tidak hanya insentif kendaraan listrik, tetapi juga pengembangan infrastruktur charging, peningkatan kapasitas produksi baterai, dan diversifikasi sumber energi terbarukan. Dengan pendekatan komprehensif ini, Indonesia dapat mencapai target pengurangan emisi sekaligus meningkatkan keamanan energi nasional.
Momentum Industri Otomotif Indonesia Menuju Era Elektrik
Era transisi ke kendaraan listrik membuka peluang besar bagi industri otomotif Indonesia untuk berkembang dan bersaing di tingkat regional. Dengan dukungan insentif yang tepat, Indonesia mampu menarik investasi manufaktur baterai, kendaraan listrik, dan komponen pendukung dari pemain global.
Pertumbuhan penjualan mobil listrik pada 2025 menunjukkan bahwa pasar Indonesia siap menerima teknologi baru ini. Selanjutnya, fokus pemerintah harus dialihkan pada penciptaan ekosistem lengkap yang mencakup jaringan pengisian daya yang luas, pelatihan teknisi, dan dukungan industri hilir untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.
Singkatnya, insentif kendaraan listrik bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan investasi strategis untuk ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Dengan komitmen berkelanjutan dari pemerintah dan partisipasi aktif industri swasta, Indonesia dapat mempercepat transisi ke transportasi bersih sambil mengurangi beban impor minyak bumi yang semakin berat.






