Ekonomi

Logam Tanah Jarang: PT Timah Groundbreaking Mei 2026

Realita BengkuluPT Timah (Persero) Tbk (TINS) bersama Perminas akan memulai pembangunan pabrik pengolahan mineral logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element pada 20 Mei 2026. Proyek strategis ini menjadi bagian dari program hilirisasi mineral yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pengembangan industri mineral nasional.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyampaikan target ambisius dalam proyek ini. Pabrik pengolahan logam tanah jarang tersebut harus menghasilkan pendapatan bagi negara maksimal dua tahun setelah pembangunan dimulai.

“Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi, selama paling cepat atau paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya, sudah bisa menghasilkan uang untuk negara,” ungkap Restu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Kolaborasi Strategis PT Timah dan Perminas

Dalam proyek industri logam tanah jarang ini, PT Timah dan Perminas membangun skema kerja sama yang saling melengkapi. Kolaborasi tersebut mencakup pengolahan mineral ikutan timah, terutama monasit yang menjadi bahan baku utama logam tanah jarang.

PT Timah akan berperan sebagai penyedia bahan baku (feedstock) dan infrastruktur pendukung. Selain itu, perusahaan pelat merah ini juga menjamin volume dan jadwal pasokan bahan baku agar proses hilirisasi berjalan stabil tanpa hambatan.

“Karena kami adalah pemilik IUP dari mineral timah dan juga termasuk nanti asosiasi mineral ikutannya, sehingga kami akan menyiapkan ketersediaan daripada feedstock dan infrastruktur dari feedstock tersebut,” kata Restu.

Di sisi lain, Perminas akan berperan sebagai off-taker sekaligus pihak yang melakukan proses pengolahan dan hilirisasi logam tanah jarang hingga menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, pembagian peran ini menciptakan ekosistem industri yang efisien dan terintegrasi.

Potensi Monasit Capai 1,2 Juta Ton

Monasit menjadi perhatian utama dalam proyek hilirisasi logam tanah jarang ini. Mineral ini merupakan sumber utama logam tanah jarang yang banyak dibutuhkan untuk industri teknologi tinggi, energi terbarukan, dan kendaraan listrik masa depan.

Berdasarkan hasil riset bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Timah memperkirakan potensi indikatif monasit di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan mencapai sekitar 1,2 juta ton. Angka yang cukup fantastis untuk mendukung industri logam tanah jarang nasional dalam jangka panjang.

Namun, perusahaan tidak langsung mengeksploitasi seluruh potensi tersebut. PT Timah akan memvalidasi lebih lanjut melalui kegiatan eksplorasi dan pengeboran di beberapa titik lokasi strategis. Langkah ini bertujuan memastikan data akurat sebelum masuk ke tahap produksi komersial.

Hilirisasi Timah yang Terus Berkembang

Selain pengembangan industri logam tanah jarang, PT Timah juga terus mendorong hilirisasi produk timah konvensional. Perusahaan telah mengembangkan berbagai produk turunan timah bernilai tambah tinggi melalui entitas anak usaha di Cilegon.

Produk-produk tersebut meliputi solder, tin chemical, tin powder, tin methyl mercaptide, stannic chloride, dan dimethyl dichloride. Jajaran produk ini menunjukkan komitmen PT Timah untuk tidak sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Ke depan, perusahaan juga akan fokus pada pengolahan mineral ikutan timah lainnya seperti ilmenit dan zirkon. Menariknya, ketiga mineral ikutan ini—ilmenit, zirkon, dan monasit—selama ini kurang optimal pemanfaatannya, padahal memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Logam Tanah Jarang untuk Industri Teknologi Tinggi

Logam tanah jarang bukan sekadar komoditas biasa. Material ini menjadi komponen krusial dalam berbagai industri teknologi tinggi yang sedang berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Industri yang membutuhkan logam tanah jarang antara lain manufaktur smartphone, komponen kendaraan listrik, turbin angin untuk energi terbarukan, dan berbagai perangkat elektronik canggih. Oleh karena itu, penguasaan industri logam tanah jarang menjadi sangat strategis bagi ketahanan ekonomi dan teknologi nasional.

Dengan groundbreaking yang akan segera dimulai pada Mei 2026, Indonesia berpeluang besar menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global logam tanah jarang. Selama ini, pasar logam tanah jarang dunia masih sangat bergantung pada beberapa negara tertentu.

Akibatnya, proyek PT Timah dan Perminas ini tidak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi, tetapi juga meningkatkan posisi geopolitik Indonesia di panggung global. Proyek ini membuktikan bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya secara optimal melalui hilirisasi.

Target Monetisasi Dua Tahun

Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat tegas kepada PT Timah untuk mempercepat monetisasi proyek logam tanah jarang ini. Target maksimal dua tahun untuk menghasilkan pendapatan bagi negara menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi manajemen perusahaan.

Dalam konteks normal, pembangunan pabrik pengolahan mineral membutuhkan waktu yang cukup panjang. Mulai dari groundbreaking, konstruksi, instalasi mesin, commissioning, hingga produksi komersial biasanya memakan waktu tiga hingga empat tahun.

Namun, dengan arahan presiden dan dukungan penuh pemerintah, PT Timah optimis bisa mempercepat timeline tersebut. Perusahaan akan menerapkan strategi fast-track development tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kualitas produk.

Kesiapan PT Timah dalam menyediakan feedstock dan infrastruktur menjadi faktor kunci percepatan ini. Ditambah lagi, pengalaman panjang perusahaan dalam industri pertambangan dan pengolahan mineral menjadi modal berharga untuk mewujudkan target ambisius ini.

Proyek groundbreaking pabrik pengolahan logam tanah jarang PT Timah dan Perminas pada 20 Mei 2026 menandai babak baru industri mineral strategis Indonesia. Dengan potensi monasit mencapai 1,2 juta ton dan target monetisasi maksimal dua tahun, proyek ini berpotensi menghasilkan pendapatan signifikan bagi negara sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global logam tanah jarang. Kolaborasi strategis antara PT Timah sebagai penyedia feedstock dan Perminas sebagai off-taker menciptakan ekosistem hilirisasi yang solid dan berkelanjutan untuk masa depan industri teknologi nasional.