Ekonomi

WIFI-INET Batal Kerja Sama: Uang Jaminan Rp 61 M Kembali

Realita Bengkulu – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) resmi membatalkan kerja sama penyediaan infrastruktur fiber optik dengan emiten milik Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Pembatalan ini melibatkan anak usaha WIFI, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), dan berdampak pada pengembalian uang jaminan senilai Rp 61 miliar.

Kedua belah pihak sepakat mengakhiri Perjanjian Kerja Sama penggunaan infrastruktur kabel fiber optik bernomor PKS/079/FO/IJE/-SIAP/XII/2025. Kesepakatan pembatalan ini resmi berlaku sejak 2 Januari 2026, kemudian manajemen menuangkannya dalam Berita Acara Pembatalan bernomor BAK/002/SIAP-IJE/I/2026 yang ditandatangani pada 6 Januari 2026.

Manajemen INET menegaskan, perusahaan telah menerima seluruh uang jaminan sebesar Rp 61 miliar pada tanggal yang sama dengan penandatanganan berita acara. Langkah ini menutup bab kerja sama infrastruktur fiber optik yang sempat digadang-gadang sebagai bagian dari ekspansi konektivitas digital nasional.

Detail Pembatalan Kerja Sama Fiber Optik WIFI-INET

PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) merupakan anak perusahaan WIFI yang berfokus pada pengembangan dan pengelolaan solusi Information, Communication, and Technology (ICT). Entitas ini hadir untuk mendukung transformasi digital dan peningkatan konektivitas di Indonesia.

Namun, rencana kolaborasi dengan INET untuk penyediaan infrastruktur fiber optik tidak berlanjut. Meski perjanjian sudah ditandatangani pada Desember 2025, implementasinya berhenti di awal Januari 2026. Alhasil, INET mengembalikan dana jaminan proyek sebesar Rp 61 miliar kepada IJE.

Pembatalan ini menandai perubahan strategi bisnis kedua perusahaan dalam pasar infrastruktur telekomunikasi yang kian kompetitif. Menariknya, INET tidak hanya membatalkan satu, tetapi dua perjanjian dengan grup WIFI dalam rentang waktu yang berdekatan.

Layanan IP Transit dengan PFI Ikut Batal

Selain pembatalan di level INET langsung, anak usaha INET yakni PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) juga mengakhiri kerja sama layanan IP Transit dengan IJE. Kedua pihak sepakat menghentikan Perjanjian Layanan IP Transit No. 42/PKS/LGL/PFI-IJE/III/2025.

Kesepakatan pembatalan ini tertuang dalam Berita Acara Kesepakatan No. 010/BAK.F/LEGAL/IJE-PFI/II/2026 yang bertanggal 16 Februari 2026. Sebagai bentuk penyelesaian administratif, PFI mengembalikan seluruh uang muka yang sebelumnya perusahaan terima dari IJE senilai Rp 48,51 miliar pada 23 Februari 2026.

Dengan demikian, total dana yang INET dan anak usahanya kembalikan kepada grup WIFI mencapai Rp 109,51 miliar. Angka ini cukup signifikan dalam konteks industri infrastruktur telekomunikasi Indonesia.

Penyesuaian Strategi: Kerja Sama Baru dengan JIA

Di sisi lain, PFI tidak tinggal diam setelah pembatalan dengan IJE. Perusahaan melakukan penyesuaian kerja sama dengan mitra lain untuk memastikan kelangsungan bisnis. Pada 6 Februari 2026, PFI bersama PT Jaringan Infra Andalan (JIA) menandatangani addendum atas Perjanjian Layanan IP Transit No. 111A/PKS/LGL/PFI-JIA/VII/2025/P1.

Dalam perjanjian revisi ini, nilai uang jaminan mencapai Rp 269,23 miliar. Namun, ada klausul penting: PFI wajib mengembalikan dana tersebut jika infrastruktur layanan IP Transit belum siap beroperasi sampai 31 Juli 2026. Ketentuan ini menunjukkan komitmen PFI untuk memenuhi target operasional dalam jangka waktu yang ketat.

Langkah pivot ini mencerminkan fleksibilitas INET dalam mengelola portofolio mitra strategis. Faktanya, nilai jaminan dengan JIA jauh lebih besar dibanding proyek yang batal dengan IJE, menandakan skala bisnis yang lebih ambisius.

Kinerja Finansial INET 2025: Lonjakan Fantastis

Sepanjang 2025, INET mencatatkan pertumbuhan finansial yang mengesankan. Pendapatan neto perusahaan mencapai Rp 91,82 miliar, melonjak 201% year-on-year (yoy) dibandingkan Rp 30,44 miliar pada tahun 2024. Pencapaian ini didorong oleh ekspansi kapasitas layanan IP Transit kepada pelanggan institusional baru.

Tidak hanya itu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 24,49 miliar atau terbang 1.742% yoy dibandingkan Rp 1,33 miliar pada 2024. Laba per saham dasar turut melonjak dramatis dari Rp 0,18 menjadi Rp 3,10. Angka-angka ini menunjukkan transformasi bisnis INET dari skala menengah ke pemain besar dalam industri infrastruktur digital.

Direktur Utama Sinergi Inti Andalan Prima, Muhammad Arif, menyebut tahun 2025 sebagai tahun pembuktian dari fondasi yang perusahaan bangun dalam beberapa tahun terakhir. “Kami berkomitmen untuk terus membangun fondasi yang kokoh demi pertumbuhan yang berkelanjutan dan penciptaan nilai bagi seluruh pemegang saham,” ujar Arif dalam keterangan resminya pada Selasa (31/3).

Neraca Keuangan yang Menguat

Dari sisi neraca, total aset konsolidasian perusahaan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 760,37 miliar, tumbuh 231% dari Rp 229,85 miliar pada akhir tahun 2024. Pertumbuhan aset ini menggambarkan ekspansi bisnis yang agresif dan akuisisi infrastruktur baru.

Kas dan setara kas perusahaan melonjak menjadi Rp 404,44 miliar dari Rp 61,91 miliar, mencerminkan likuiditas yang sangat sehat. Total ekuitas INET hampir berlipat dua menjadi Rp 429,21 miliar dari Rp 215,87 miliar di tahun sebelumnya.

Menariknya, rasio Net Debt to Equity perusahaan tercatat sehat di level 17,07%, turun dari 22,20% pada tahun sebelumnya. Penurunan rasio ini menunjukkan pengelolaan utang yang semakin baik dan struktur permodalan yang lebih solid. Dengan kata lain, INET tidak hanya tumbuh dari sisi pendapatan, tetapi juga memperkuat fondasi keuangannya.

Investasi Infrastruktur Jangka Panjang

Sepanjang 2025, INET aktif memperkuat fondasi infrastruktur untuk pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan melakukan pembayaran uang muka Indefeasible Right-of-Use (IRU) kabel serat optik bawah laut sebesar Rp 48,51 miliar untuk rute strategis Batam-Singapura. Investasi ini krusial mengingat Batam merupakan pintu gerbang konektivitas Indonesia-Singapura.

Selain itu, belanja modal aset tetap perusahaan mencapai Rp 44,75 miliar, melonjak signifikan dari Rp 10,13 miliar pada tahun 2024. Peningkatan capex ini menunjukkan keseriusan INET dalam membangun infrastruktur fisik untuk mendukung layanan digital yang lebih luas.

Seiring dengan itu, INET menyelesaikan pendirian PT Internet Anak Bangsa (IAB) pada Mei 2025 sebagai entitas konstruksi infrastruktur telekomunikasi. Langkah ini membuka lini bisnis baru dalam rantai nilai industri telekomunikasi, dari penyedia layanan hingga pembangun infrastruktur.

Akuisisi GPI untuk Ekspansi Layanan ISP

Pada September 2025, INET mengakuisisi 99,96% saham PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk memperluas cakupan layanan Internet Service Provider (ISP) grup. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi bisnis INET, dari infrastruktur backbone ke layanan retail internet.

Dengan menguasai hampir seluruh saham GPI, INET kini memiliki kontrol penuh atas operasional dan strategi bisnis entitas tersebut. Akuisisi ini juga memberikan akses ke basis pelanggan eksisting GPI, mempercepat penetrasi pasar retail ISP.

Kombinasi antara infrastruktur fiber optik, layanan IP Transit, konstruksi jaringan, dan ISP retail menciptakan ekosistem bisnis terintegrasi yang komprehensif. Model bisnis vertikal ini memberikan INET keunggulan kompetitif dalam industri telekomunikasi yang fragmentatif.

Dampak Pembatalan terhadap Strategi INET

Meski pembatalan kerja sama dengan WIFI tampak seperti kemunduran, kondisi finansial INET yang solid menunjukkan perusahaan mampu menyerap dampaknya. Pengembalian uang jaminan total Rp 109,51 miliar tidak menggerus posisi kas perusahaan yang mencapai Rp 404,44 miliar.

Terlebih lagi, kerja sama baru dengan JIA yang bernilai lebih besar (Rp 269,23 miliar) menunjukkan INET berhasil menemukan alternatif mitra strategis. Perusahaan tidak bergantung pada satu proyek atau satu mitra, melainkan memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan portofolio sesuai kondisi pasar.

Pada akhirnya, pembatalan ini bisa jadi merupakan bagian dari konsolidasi strategi bisnis kedua belah pihak. WIFI mungkin memilih fokus pada segmen bisnis lain, sementara INET mengalokasikan sumber daya untuk proyek dengan return lebih menarik seperti kerja sama dengan JIA dan ekspansi infrastruktur Batam-Singapura.

Kinerja INET di tahun 2025 yang gemilang membuktikan perusahaan berada di jalur pertumbuhan yang tepat. Dengan fondasi finansial yang kuat, portfolio anak usaha yang terintegrasi, dan investasi infrastruktur jangka panjang, prospek bisnis INET di tahun 2026 tetap menjanjikan meski harus melepas kerja sama dengan emiten milik konglomerat Hashim Djojohadikusumo.