Realita Bengkulu – Krisis energi global ternyata tidak sekadar membuat harga minyak naik. Dampaknya bisa jauh lebih dekat, yaitu menentukan ketersediaan dan harga pangan yang dibayar masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Bagi Indonesia, persoalannya tidak hanya kenaikan harga energi, melainkan bagaimana ketergantungan pada impor energi menciptakan kerentanan yang menjalar hingga ke produksi dan distribusi pangan.
Jadi, dampak energi terhadap pangan bekerja melalui beberapa jalur sekaligus. Pertama, gangguan rantai pasokan global. Ketika jalur perdagangan dunia di Selat Hormuz terganggu, distribusi pupuk, bahan baku pertanian, hingga komoditas pangan ikut terhambat. Dampak keduanya, tekanan biaya dari hulu ke hilir. Kenaikan harga minyak mendorong biaya produksi dan distribusi secara bersamaan, yang akhirnya menaikkan harga pangan.
Namun yang paling jarang diperhatikan adalah terganggunya produksi pupuk akibat krisis energi. Pupuk nitrogen yang bergantung pada gas alam untuk bahan baku dan proses produksi langsung tertekan kapasitasnya. Situasi ini menciptakan tekanan ganda: pasokan pupuk global terganggu, sementara kemampuan produksi domestik juga melemah.
Energi Bersih Jadi Solusi Swasembada Pangan
Maka dari itu, solusinya adalah memperkuat swasembada energi bersih. Sumber energi terbarukan seperti surya, angin, dan mikrohidro dapat dikembangkan sesuai dengan ketersediaan sumber daya di masing-masing daerah. Berbeda dengan energi fosil, sumber energi ini tidak bergantung pada bahan bakar yang diperdagangkan secara global, sehingga biaya energinya lebih stabil dan dapat diprediksi.
Menariknya, energi bersih bisa menjadi perisai untuk menjaga stabilitas biaya pangan. Karena energi bersih tidak hanya mengurangi ketergantungan, tetapi juga mengurangi ketidakpastian. Hal ini sangat krusial untuk menentukan biaya produksi dan distribusi pangan dalam jangka panjang.
Transisi ke swasembada energi bersih perlu dilakukan mulai dari hilir hingga hulu. Di tingkat produksi, penggunaan energi terbarukan untuk irigasi dan mekanisasi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak. Sementara di tingkat distribusi, elektrifikasi transportasi dan peningkatan efisiensi logistik dapat secara langsung menurunkan sensitivitas harga pangan terhadap gejolak energi.
Faktanya, biaya awal transisi ini masih lebih murah dibandingkan beban subsidi energi, intervensi harga pangan, serta dampak sosial dari inflasi pangan yang selama ini terus berulang. Oleh karena itu, ketahanan pangan dan transisi energi perlu dipandang sebagai satu kesatuan agar tidak hanya bersifat reaktif terhadap tekanan energi global.






