Realita Bengkulu – Pedagang sayur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi (58), mengalami tekanan biaya operasional yang signifikan akibat melonjaknya harga plastik pada Sabtu (28/3/2026). Kenaikan harga ini menjadi dampak langsung dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan bahan baku nafta, komponen utama produksi plastik.
Persoalan yang Gemi hadapi mencerminkan bagaimana konflik internasional merambah ke aktivitas ekonomi mikro pedagang kecil di Tanah Air. Lonjakan biaya ini tidak hanya mengganggu margin keuntungan, tetapi juga memaksa Gemi meneruskan beban tersebut kepada pelanggan melalui harga sayuran yang lebih tinggi.
Harga Plastik Membengkak Drastis di Pasar Minggu
Gemi menjelaskan bahwa semua jenis plastik mengalami kenaikan harga. Dalam sekali kenaikan, harga plastik naik enam ribu rupiah per kemasan. Situasi ini mulai Gemi rasakan sejak tiga hari jelang Idulfitri 2026.
Sebelumnya, pedagang sayur berusia 58 tahun ini biasanya membeli plastik dengan harga Rp 17 ribu per kantong. Saat ini, harganya sudah melambung menjadi Rp 23 ribu per kantong, peningkatan sebesar 35 persen. Kenaikan serupa terjadi di seluruh toko penyedia plastik, sehingga Gemi tidak memiliki alternatif untuk mencari harga lebih murah.
Gemi pun mengakui tidak bisa menghindar dari penggunaan plastik. Pelanggan memerlukan plastik untuk membungkus belanjaan mereka, dan tidak ada pilihan lain karena bahan alternatif seperti koran sudah sulit ditemukan dan harganya pun melonjak. Oleh karena itu, Gemi terpaksa menyerap kenaikan biaya plastik dan mengalihkannya melalui peningkatan harga barang dagangannya.
Menteri Koordinasi Akui Lonjakan Harga Plastik Meluas
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menerima keluhan serupa dari berbagai pedagang terkait kenaikan harga plastik. Dalam acara Pantauan Harga Barang Kebutuhan Pokok di Pasar Minggu pada hari yang sama, Zulhas menyatakan bahwa lonjakan ini disebabkan oleh naiknya harga bahan baku bijih plastik.
Zulhas menjelaskan bahwa bijih plastik merupakan produk turunan dari bahan bakar minyak (BBM), sehingga fluktuasi harga energi langsung mempengaruhi biaya produksi plastik. Menteri ini berkomitmen untuk membahas permasalahan bijih plastik secara khusus dan mengundang pihak-pihak terkait untuk diskusi mendalam mengenai hal tersebut.
Nafta dan Rantai Produksi Plastik Global
Salah satu bahan utama dalam pembuatan plastik adalah nafta, produk sampingan hasil penyulingan minyak bumi mentah dengan titik didih berkisar antara 30°C hingga 200°C. Nafta menjadi bahan baku krusial dalam pembuatan plastik, resin, serat sintetis, dan berbagai bahan baku kimia industri lainnya.
Industri mengolah nafta melalui reaksi kimia untuk menghasilkan beberapa senyawa penting. Etilena, hasil dari pengolahan nafta, digunakan dalam pembuatan kantong plastik dan kosmetik. Benzena, turunan nafta lainnya, menjadi bahan untuk pembuatan nilon dan sterofoam. Paraxylene, senyawa lain dari nafta, dimanfaatkan dalam pembuatan botol minum berbahan Polyethylene Terephthalate (PET) dan Polyvinyl Chloride (PVC).
Ketergantungan industri plastik global terhadap nafta berarti setiap gangguan pada pasokan minyak bumi mentah akan segera memengaruhi ketersediaan dan harga plastik di seluruh dunia.
Perang Timur Tengah Ganggu Pasokan Nafta Asia
Sejumlah perusahaan petrokimia Asia mengumumkan keadaan memaksa (force majeure) akibat gangguan pasokan bahan baku nafta. Gangguan ini merupakan dampak langsung dari konflik yang memanas di Timur Tengah, khususnya ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Data menunjukkan bahwa mayoritas, yakni 54 persen dari pasokan nafta Asia, bersumber dari Timur Tengah. Pemasok utama meliputi Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Dengan porsi yang sedemikian besar, setiap krisis di kawasan tersebut langsung mengancam ketersediaan bahan baku petrokimia di seluruh Asia.
Di Indonesia, raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan status force majeure pada awal Maret 2026. Sebagai langkah mitigasi, manajemen TPIA menyatakan mereka akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik mereka untuk menyesuaikan dengan keterbatasan pasokan bahan baku.
Industri Petrokimia Asia Lakukan Penyesuaian Operasional
Tidak hanya TPIA, perusahaan petrokimia Asia lainnya juga mengambil langkah serupa untuk menghadapi krisis pasokan nafta. Petrochemical Corporation of Singapore dan Aster Chemicals and Energy asal Singapura menerapkan strategi pengurangan operasional.
Selain itu, Yeochun NCC asal Korea Selatan, Siam Cement Group asal Thailand, dan Sumitomo Chemical asal Jepang juga melaksanakan penyesuaian sejenis. Pola ini menunjukkan bahwa dampak gangguan pasokan nafta bersifat regional dan mengenai hampir seluruh pemain utama industri petrokimia di Asia Pasifik.
Strategi pengurungan operasional yang dilakukan para produsen petrokimia ini mengindikasikan bahwa krisis pasokan dianggap berjangka menengah. Perusahaan-perusahaan ini tidak sekadar menunggu situasi membaik, tetapi secara proaktif menyesuaikan kapasitas produksi untuk mempertahankan viabilitas bisnis mereka.
Implikasi Jangka Panjang untuk Pedagang Kecil
Ketika produsen petrokimia mengurangi operasional dan mengalami keterbatasan pasokan, dampaknya merambah hingga ke tingkat pedagang kecil seperti Gemi. Harga plastik yang naik di Pasar Minggu Jakarta mencerminkan efek berantai dari krisis energi dan geopolitik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Bagi pedagang sayur, situasi ini menciptakan dilema ekonomi yang sulit. Mereka harus memilih antara mengurangi margin keuntungan atau meningkatkan harga barang dagangan. Kedua opsi sama-sama merugikan: mengurangi margin menambah kesulitan finansial, sementara menaikkan harga berpotensi kehilangan pelanggan.
Peran Menteri Koordinator Bidang Pangan menjadi kritis dalam situasi seperti ini. Keterlibatan Zulhas dalam Pantauan Harga Barang Kebutuhan Pokok menunjukkan kesadaran pemerintah akan kebutuhan monitoring dan intervensi untuk melindungi stabilitas ekonomi mikro di Tanah Air.
Konflik geopolitik di Timur Tengah membuktikan betapa terhubungnya ekonomi global. Perang Iran, ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, serta ancaman terhadap Selat Hormuz tidak hanya menjadi berita internasional, melainkan juga mengubah dinamika perdagangan lokal dan meningkatkan beban operasional pedagang kecil di Indonesia. Kenaikan harga plastik yang dialami Gemi adalah bukti nyata bagaimana krisis jauh di kawasan lain dapat menggoncang ekonomi mikro di pasar tradisional Jakarta dalam hitungan hari.






