Edukasi

Peran Guru dalam Pendidikan – Kunci Sukses yang Sering Dilupakan

Realita Bengkulu – Peran guru dalam pendidikan ternyata menjadi faktor paling menentukan dalam kesuksesan belajar siswa, namun sering kali terlupakan dalam kebijakan pendidikan nasional. Bukannya fokus memperkuat kemampuan pengajar, pemerintah justru terus-menerus mengganti kurikulum tanpa memperhatikan kualitas guru yang mengimplementasikannya di kelas.

Pertanyaan sederhana ini hadir di berbagai tempat—warung kopi, ruang guru, atau forum diskusi: apa sebenarnya faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan? Apakah kurikulum yang selalu diperbarui, kualitas guru di kelas, atau motivasi belajar siswa? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan mengarahkan seluruh kebijakan pendidikan ke depannya.

Kurikulum Berubah, Kualitas Pengajaran Tetap Sama

Praktik yang sering terjadi menunjukkan pola yang berulang. Setiap kali muncul masalah pendidikan, instansi terkait segera mengganti kurikulum dengan nama dan istilah baru, seolah pendidikan hanya mesin yang perlu diperbaiki dari luar. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan cerita berbeda.

Kurikulum yang terlihat megah di atas kertas sering kehilangan esensinya begitu masuk ke ruang kelas. Ia menjadi teks yang kaku, tidak menyentuh pikiran, apalagi hati siswa. Data membuktikan realitas ini—hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan skor membaca siswa Indonesia mencapai 359, turun sekitar dua belas poin dari tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan bahwa banyak siswa belum mampu memahami teks secara mendalam.

Guru Adalah Koki dalam Dunia Pendidikan

Masalah utama pendidikan tidak terletak semata pada kurikulum, melainkan pada kemampuan guru menghidupkan pelajaran di kelas. Ruh pendidikan sesungguhnya bukan berada pada dokumen, tetapi pada didaktik—seni dan ilmu mengajar yang dimiliki seorang guru. Tanpa didaktik yang kuat, sebaik apa pun desain pendidikan, hasilnya tetap akan rapuh.

Analogi sederhana membantu melihat masalah ini dengan jernih. Kurikulum adalah resep. Ia memberi petunjuk tentang apa yang harus diajarkan, bagaimana urutannya, dan tujuan akhirnya. Namun guru adalah koki yang menentukan apakah resep itu menjadi hidangan lezat atau sekadar makanan hambar. Resep terbaik di dunia tidak akan bermakna jika kokinya tidak memahami rasa, teknik, dan kebutuhan orang yang akan menyantapnya.

Seorang guru dituntut menguasai materi pelajaran, memiliki kepribadian matang, kemampuan berinteraksi sosial, dan yang paling penting—kemampuan didaktik metodik. Kemampuan ini memungkinkan guru menyampaikan pelajaran dengan cara hidup, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan siswa.

Data Menunjukkan Kelemahan Pedagogi Guru

Data Uji Kompetensi Guru mengungkapkan kelemahan signifikan di sini. Rata-rata nilai pedagogik guru berada di angka 48,94—angka yang masih berada di bawah standar minimal 55. Ini berarti banyak guru memahami materi dengan baik, namun mengalami kesulitan besar dalam menyampaikannya secara efektif kepada siswa.

Penguasaan materi saja tidak cukup dalam pendidikan. Seorang guru bisa menghafal seluruh isi buku, tetapi jika tidak mampu menjembatani pemahaman siswa, ilmu itu tidak akan sampai ke otak murid. Ilmu hanya berhenti di kepala guru tanpa pernah berpindah.

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru ke siswa. Nicolaus Driyarkara dalam bukunya “Tentang Pendidikan” menegaskan bahwa pendidikan adalah proses hominisasi dan humanisasi—sebuah proses menjadikan manusia lebih manusiawi. Belajar tidak hanya tentang tahu, tetapi juga memahami, merasakan, dan bertindak.

Hafalan Menggantikan Pemahaman dalam Pembelajaran

Jika proses belajar hanya diisi dengan ceramah satu arah, yang terjadi hanyalah penumpukan hafalan. Siswa memang bisa menjawab soal ujian, namun tidak benar-benar mengerti maknanya. Lebih parah lagi, mereka kehilangan rasa ingin tahu—bahan bakar utama dalam belajar.

Kritik serupa disampaikan Mochtar Buchori dalam “Pendidikan Antisipatoris”. Ia mengingatkan bahwa kurikulum adalah alat mati. Tanpa guru yang hidup dan berjiwa, kurikulum tidak akan mampu menyiapkan siswa menghadapi masa depan penuh ketidakpastian.

Pentingnya didaktik metodik menjadi semakin jelas. Guru dengan kemampuan ini tidak sekadar mengajar, tetapi mampu menghidupkan pelajaran. Mereka bisa mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari, mengubah konsep abstrak menjadi contoh nyata, dan membuat siswa merasa bahwa belajar bermakna.

Guru Sebagai Penuntun, Bukan Penguasa Kelas

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam “Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan” memberi arah sangat jelas tentang peran guru. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun”. Guru bukan penguasa kelas, melainkan pamong atau penuntun yang membantu anak menemukan jalan mereka sendiri.

Peran ini tidak bisa digantikan oleh kurikulum atau teknologi. Ia membutuhkan kepekaan, kesabaran, dan seni. Guru harus tahu kapan mereka perlu mendorong, kapan perlu menahan, dan kapan perlu memberi ruang kepada siswa. Kemampuan ini tidak bisa ditulis dalam buku panduan manapun.

Sayangnya, sistem pendidikan sering kali tidak memberi ruang bagi guru untuk berkembang di aspek penting ini. Guru dibebani administrasi berlebihan, dikejar target ketat, dan dipaksa mengikuti standar yang kaku. Akibatnya, energi guru habis untuk urusan birokrasi, bukan untuk merancang pembelajaran kreatif yang bermakna.

Reformasi Pendidikan Harus Dimulai dari Guru

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kesalahan besar terus dilakukan. Pemerintah berharap hasil berbeda, namun tetap menggunakan cara yang sama. Kita tidak bisa terus mengganti resep tanpa memperbaiki kokinya. Pendidikan tidak akan berubah hanya dengan mengganti istilah atau menambah dokumen baru.

Perubahan sejati terjadi ketika guru diberi ruang, waktu, dan dukungan untuk mengasah seni mengajar mereka. Fokus kebijakan pendidikan harus bergeser dari perbaikan kurikulum eksternal menjadi pemberdayaan guru secara menyeluruh.

Pada akhirnya, pertanyaan awal perlu dijawab dengan jelas: siapa yang paling menentukan dalam pendidikan? Kurikulum penting, siswa juga penting. Namun tanpa guru yang mampu menghidupkan proses belajar, semuanya akan sia-sia. Yang diingat oleh siswa bukanlah nama kurikulum atau isi buku teks, melainkan bagaimana seorang guru membuat mereka paham, merasa dihargai, dan percaya bahwa mereka mampu belajar.

Jika pemerintah benar-benar ingin membangun masa depan bangsa, fokus harus jelas: memperkuat manusia yang berdiri di depan kelas. Sebab di sanalah, setiap hari, masa depan bangsa sedang dibentuk—bukan oleh kertas, melainkan oleh sentuhan manusia seorang guru.