Realita Bengkulu – Tumpukan sampah setinggi sekitar 6 meter menggunung di tempat penampungan sementara (TPS) kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Gunungan sampah pasar ini langsung berhadapan dengan deretan lapak pedagang sayur, menciptakan bau menyengat yang menyebar hingga ke seluruh area pasar dan permukiman sekitar.
Pantauan lapangan pada Minggu, 29 Maret 2026, menunjukkan tumpukan sampah pasar tersebut dikelilingi pembatas kayu sederhana. Sejak pagi hari, truk sampah terus berdatangan silih berganti untuk membuang limbah, membuat volume sampah pasar terus bertambah. Sampah yang menggunung terdiri dari berbagai jenis—mulai dari plastik hingga boks-boks kayu—namun sampah pasar didominasi limbah organik seperti sisa sayuran.
Bau Menyengat Mengusik Aktivitas Pasar
Aroma busuk dari tumpukan sampah pasar tercium kuat hingga penetrasi ke dalam area pasar. Saat angin berembus, bau menyengat itu terbawa dan semakin menusuk hidung pengunjung maupun pedagang. Kondisi ini membuat ribuan orang yang beraktivitas di pasar tiap hari merasa terganggu dan tidak nyaman.
Menariknya, sejumlah pedagang dan warga sekitar mengaku aktivitas normal mereka terhambat. Sugiat, seorang pedagang berusia 55 tahun, mengatakan dampak gangguan ini sangat nyata bagi semua pihak. Menurutnya, lokasi gunungan sampah pasar yang berdekatan langsung dengan aktivitas jual beli sehari-hari memperburuk situasi.
Dampak Kesehatan Warga Kramat Jati
Sugiat menceritakan pengalaman pribadinya saat bekerja di tengah aroma sampah pasar yang menyengat. “Baunya itu jelas mengganggu warga, terutama bagi mereka yang punya penyakit bengek (asma). Langsung saja sesak napas gitu,” ungkap Sugiat saat ditemui di lokasi.
Tidak hanya itu, sebaran bau sampah pasar dari TPS mencapai jangkauan yang sangat luas. Sugiat menyebutkan aroma tidak sedap itu bisa tercium hingga ke permukiman warga belakang pasar. “Ya sampai pemukiman belakang. Kira-kira lah 100-an meter jangkauannya,” tuturnya dengan nada kekhawatiran.
Volume Sampah Pasar Terus Meningkat
Aktivitas sehari-hari di pasar induk menghasilkan limbah organik dalam jumlah sangat besar. Pedagang sayur, buah, daging, dan ikan menghasilkan limbah segar yang mudah busuk dan mengeluarkan bau. Belum lagi sampah kemasan plastik, tas belanja, dan berbagai limbah anorganik lainnya yang turut bertumpuk.
Dengan volume sampah pasar yang terus bertambah setiap harinya, TPS sementara di lokasi itu semakin tidak mampu menangani kapasitas limbah. Sistem penampungan yang ada terlihat tidak sebanding dengan jumlah sampah pasar yang dihasilkan dari aktivitas ribuan pedagang dan jutaan pembeli yang datang.
Kondisi Sanitasi dan Kebersihan Pasar
Kehadiran gunungan sampah pasar setinggi 6 meter jelas merusak citra pasar induk sebagai pusat perdagangan yang tertib. Pembatas kayu sederhana yang mengelilingi tumpukan limbah tampak tidak cukup untuk menahan bau, serangga, dan potensi kontaminasi. Risiko kesehatan publik menjadi semakin nyata dengan kondisi sanitasi yang menurun drastis.
Selain itu, pencemaran udara akibat sampah pasar organik yang membusuk turut menurunkan kualitas lingkungan kerja pedagang. Pembeli yang datang berkunjung pun akan lebih rentan mengalami ketidaknyamanan, bahkan berisiko tertular penyakit yang menyebar dari tumpukan sampah pasar yang tidak teratasi dengan baik.
Tantangan Manajemen Limbah Pasar Induk
Pasar induk adalah fasilitas perdagangan berskala besar yang memproses ribuan ton sampah organik setiap minggunya. Mengelola limbah sebanyak itu memerlukan sistem yang efisien, infrastruktur yang memadai, dan sumber daya manusia yang terlatih dengan baik. Tampaknya, sistem yang ada saat ini belum optimal menangani beban sampah pasar yang terus bertambah.
Oleh karena itu, diperlukan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis sampah pasar di Kramat Jati. Opsi yang bisa dipertimbangkan mencakup peningkatan kapasitas TPS, penambahan armada pengangkut sampah pasar, hingga implementasi program pengurangan sampah organik melalui daur ulang kompos.
Pada akhirnya, gunungan sampah setinggi 6 meter di Pasar Induk Kramat Jati bukan hanya masalah estetika pasar saja. Isu ini menyentuh kesehatan publik, kualitas lingkungan, dan produktivitas pedagang yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas jual beli harian mereka. Penanganan cepat dan terukur dari pihak terkait menjadi sangat urgen untuk mengembalikan kondisi pasar ke situasi normal dan aman bagi semua pengguna pasar.






