Realita Bengkulu – Kelompok Houthi dari Yaman resmi memasuki pusaran perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Dalam waktu kurang dari 24 jam pada akhir pekan (28-29 Maret 2026), kelompok militan yang bersekutu dengan Iran ini meluncurkan serangan terhadap Israel sebanyak dua kali menggunakan rudal jelajah dan drone.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saria, membenarkan gelombang serangan kedua mereka yang dilakukan pada Sabtu (28/3/2026). Saria menyatakan bahwa Houthi menargetkan situs-situs militer penting Israel dengan menembakkan serangkaian rudal jelajah dan pesawat tanpa awak melalui saluran Telegram-nya pada Minggu (29/3/2026).
Dua Serangan Houthi dalam 24 Jam
Serangan pertama Houthi ke Israel berlangsung dengan peluncuran rentetan rudal balistik yang menjadi operasi militer pertama mereka sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Sebelum serangan kedua, Israel mengklaim telah mencegat sebuah rudal yang berasal dari Yaman.
“Angkatan Bersenjata kami telah melakukan operasi militer kedua, menggunakan sekelompok rudal jelajah dan pesawat tanpa awak,” ungkap Saria seperti yang tampak dalam video yang dia unggah di saluran Telegram-nya. Melalui stasiun televisi satelit Al Masirah milik Houthi, Saria menjelaskan bahwa operasi ini akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai.
Komitmen Houthi Lanjutkan Operasi Militer
Dalam pernyataan resminya, Saria menegaskan bahwa Houthi tidak akan menghentikan operasi militer mereka. “Operasi militer ini akan terus berlanjut hingga tujuan dinyatakan tercapai, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan sebelumnya oleh Angkatan Bersenjata kami, dan hingga agresi terhadap semua lini perlawanan berhenti,” ujarnya pada Sabtu (28/3/2026).
Sinyal bergabungnya Houthi dalam konflik yang mengguncang Timur Tengah ini sudah Saria sampaikan sejak Jumat (27/3/2026). Langkah ini menunjukkan eskalasi baru dalam perang regional yang telah mengejutkan ekonomi global.
Dampak Potensial terhadap Ekonomi Global
Analis Timur Tengah BBC memandang keterlibatan Houthi membawa tekanan tambahan bagi perekonomian dunia yang sudah terpukul akibat konflik tersebut. Analisis ini menjadi perhatian karena Houthi menguasai area strategis di Timur Tengah.
“Jika Houthi menargetkan pelayaran yang melewati Selat Bab al-Mandab di ujung selatan Laut Merah, itu akan menjadi pukulan besar lainnya bagi ekonomi global,” tulis analis BBC tersebut pada Minggu (29/3/2026). Selat ini merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat penting bagi rute kapal cargo global.
Pengerahan Pasukan AS dan Diplomasi Pakistan
Sementara itu, kapal perang Amerika Serikat USS Tripoli, yang membawa 3.500 personel angkatan laut dan marinir, sudah tiba di Timur Tengah. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa kapal ini juga mengangkut sejumlah pesawat angkut, pesawat serang, serta peralatan serangan amfibi untuk memperkuat posisi militer AS di kawasan.
Pengerahan pasukan tersebut terjadi ketika Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran sedang berlangsung. Meski demikian, eskalasi militer dari kedua belah pihak terus terjadi di lapangan.
Di sisi lain, Pakistan menggerakkan diplomasi dengan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengundang ketiga negara tersebut ke Islamabad untuk membahas isu-isu terkait perang Iran melawan AS dan Israel.
Pertemuan diplomatik ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu (29/3/2026) dan Senin (30/3/2026). Langkah ini menunjukkan upaya negara-negara regional untuk mencari solusi terhadap krisis yang terus berkembang di Timur Tengah.
Eskalasi Konlik di Timur Tengah Meningkat
Keterlibatan Houthi menandai titik balik penting dalam konflik Timur Tengah 2026. Sebelumnya, kelompok ini fokus pada pertempuran internal di Yaman, namun kini mereka secara terang-terangan bergabung dalam perang Iran melawan koalisi AS-Israel.
Strategi Houthi menargetkan Israel dengan menggunakan teknologi drone dan rudal menunjukkan kemajuan kemampuan militer kelompok tersebut. Akibatnya, kawasan Timur Tengah menghadapi periode ketidakstabilan yang lebih mendalam dengan melibatkan lebih banyak aktor non-negara dalam konflik regional.
Bergabungnya Houthi dalam perang ini menciptakan dinamika baru yang lebih kompleks. Pemerintah AS merespons dengan penguatan militer, sementara Pakistan mencoba membuka saluran diplomasi. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah 2026 tidak lagi terbatas pada pihak-pihak tertentu, melainkan telah melibatkan jaringan yang lebih luas.






