Berita

Serangan Lebah di Pura – 12 Jemaah Denpasar Tersengat saat Bersembahyang

Realita Bengkulu – Dua belas jemaah dari Denpasar mengalami insiden mengerikan saat hendak bersembahyang di Pura Payasan, Karangasem, pada Kamis (26/3/2026) sore. Kawanan lebah hutan yang menghuni kawasan pura menyerang rombongan ini dengan ganas, menyebabkan puluhan sengatan pada wajah, leher, dada, dan tangan para korban.

Kejadian serangan lebah di pura ini langsung memicu respons cepat dari masyarakat sekitar, personel Polsek Rendang, TNI, dan tim medis Puskesmas Rendang. Semua korban harus dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapat penanganan medis lebih lanjut. Beruntung, meskipun situasi darurat, seluruh korban tetap sadar.

Insiden ini menjadi peringatan penting tentang bahaya satwa liar di area ibadah yang belum sepenuhnya terlindungi dari gangguan eksternal.

Detail Insiden Serangan Lebah di Pura Payasan

Kapolsek Rendang, Kompol I Made Berata, mengungkapkan bahwa rombongan jemaah berjumlah 13 orang saat tiba di Pura Payasan, Dusun Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang berhasil menghindari serangan kawanan lebah hutan yang ganas.

Sebanyak 12 orang menjadi korban, terdiri dari 10 orang dewasa dan dua anak-anak. Mereka semua tersengat di berbagai bagian tubuh, khususnya area wajah, leher, dada, dan tangan. Meski tersengat berkali-kali, semua korban masih mempertahankan kesadaran mereka.

Evakuasi dilakukan dengan segera oleh tim medis Puskesmas Rendang. Proses pertolongan pertama melibatkan pencabutan sengatan lebah dari tubuh korban, sebuah prosedur yang memerlukan kehati-hatian tinggi untuk menghindari luka tambahan.

Asal Rombongan dan Rencana Persembahyangan

Rombongan yang mengalami musibah ini berasal dari Banjar Tegal Buah, Padangsambian Kelod, Denpasar Barat. Mereka memiliki niat mulia untuk melaksanakan persembahyangan di Pura Payasan pada hari tersebut.

Setibanya di areal parkir pura, rombongan mulai memasuki kawasan untuk menuju areal persembahyangan. Namun, tepat saat mereka hendak melanjutkan perjalanan menuju bagian dalam pura, kawanan lebah hutan menyerang tanpa peringatan. Serangan tiba-tiba ini menimbulkan kepanikan dan membuat rombongan kesulitan dalam mengantisipasi bahaya.

Respons Cepat dan Koordinasi Penyelamatan

Petugas Puskesmas Rendang bereaksi dengan cepat terhadap panggilan darurat. Mereka tidak hanya memberikan penanganan medis, tetapi juga melakukan evakuasi dengan hati-hati mengingat jumlah korban yang cukup banyak dan kondisi luka yang tersebar di berbagai titik tubuh.

Selain itu, personel Polsek Rendang dan TNI turut membantu dalam proses evakuasi. Koordinasi antara aparat keamanan dan tim medis terbukti efektif dalam meminimalkan risiko lebih lanjut terhadap para korban. Berata menyampaikan informasi ini pada Jumat (27/3/2026), sehari setelah kejadian.

Menariknya, meskipun kondisi darurat dan jumlah korban yang banyak, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden serangan lebah di pura ini. Semua korban berhasil diselamatkan dan mendapat penanganan medis dengan baik.

Pertanyaan Keamanan di Area Ibadah Suci

Insiden ini membawa pertanyaan penting: sejauh mana keamanan pengunjung di area ibadah suci yang berbatasan dengan habitat satwa liar? Pura Payasan, sebagai tempat persembahyangan, seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para penyembah yang datang dengan niat baik.

Kehadiran kawanan lebah hutan yang agresif menunjukkan bahwa kontrol habitat satwa liar di sekitar area pura belum optimal. Diperlukan upaya serius dari pemerintah daerah dan pengelola pura untuk memetakan zona rawan dan mengambil tindakan preventif guna melindungi pengunjung di masa depan.

Selain itu, edukasi kepada pengunjung tentang perilaku satwa liar dan prosedur keselamatan juga menjadi penting. Dengan informasi yang tepat, pengunjung dapat mengenali tanda-tanda peringatan dan mengambil langkah pencegahan sebelum serangan terjadi.

Dampak Psikologis dan Pemulihan Korban

Pengalaman traumatis seperti serangan lebah tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak psikologis yang perlu diperhatikan. Para korban, terutama anak-anak, mungkin memerlukan dukungan emosional dan psikologis dalam proses pemulihan mereka.

Tidak hanya itu, rombongan jemaah yang datang dengan niat berbakti harus mengalami pengalaman yang sangat menakutkan. Hal ini tentu memperngaruhi kepercayaan mereka terhadap keamanan tempat ibadah di kemudian hari. Pihak berwenang dan pengelola pura perlu mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Rekomendasi untuk Pencegahan Serangan Lebah di Masa Depan

Berdasarkan insiden serangan lebah di Pura Payasan ini, beberapa langkah preventif dapat diambil untuk mencegah kejadian serupa terjadi lagi. Pertama, identifikasi dan pemetaan sarang lebah hutan di area sekitar pura perlu dilakukan secara berkala oleh tenaga profesional.

Kedua, relokasi sarang lebah atau pemberian jarak aman antara zona pengunjung dan habitat lebah harus menjadi prioritas. Tenaga ahli satwa liar atau beekeeper berpengalaman dapat membantu proses ini dengan aman.

Ketiga, pemasangan rambu peringatan dan edukasi pengunjung tentang perilaku lebah dan langkah keselamatan perlu ditingkatkan. Tidak hanya itu, pelatihan pertolongan pertama khusus untuk kasus gigitan atau sengatan serangga harus diberikan kepada pengelola dan petugas pura.

Keempat, komunikasi terbuka antara pengelola pura, masyarakat lokal, dan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan dan Dinas Kesehatan perlu dijalin untuk menciptakan strategi komprehensif dalam menangani masalah satwa liar di area ibadah.

Catatan Penutup

Insiden serangan lebah di Pura Payasan pada 26 Maret 2026 menjadi pengingat bahwa keselamatan pengunjung harus selalu menjadi prioritas utama, terlebih di tempat-tempat ibadah yang menarik ratusan peziarah setiap harinya. Meskipun semua korban dapat diselamatkan, dampak insiden ini menunjukkan urgensi tindakan pencegahan yang serius dan terkoordinasi.

Respons cepat dari masyarakat, aparat keamanan, dan tim medis patut diapresiasi. Namun, ke depannya, pencegahan harus menjadi fokus utama untuk memastikan bahwa setiap pengunjung dapat bersembahyang dengan aman dan tenang tanpa khawatir akan serangan satwa liar yang tidak terduga.