Realita Bengkulu – Puncak perayaan Lebaran di Indonesia tak hanya terbatas pada Idul Fitri saja. Ada satu tradisi unik yang masih dilestarikan hingga hari ini, yaitu Lebaran Ketupat atau Syawalan. Kegiatan tahunan ini merupakan warisan budaya dari para Wali Songo, sekelompok tokoh penyebar agama Islam di Tanah Jawa pada abad ke-15 dan 16.
Lebaran Ketupat biasanya jatuh pada hari ketujuh setelah Idul Fitri, atau disebut juga dengan Hari Raya Ketupat. Pada momen ini, masyarakat Muslim di Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya, akan membuat dan menyantap ketupat sebagai hidangan utama. Ketupat terbuat dari anyaman daun kelapa yang diisi dengan beras dan direbus hingga matang.
Mengapa Disebut Lebaran Ketupat?
Menariknya, tradisi ini juga dikaitkan dengan legenda Sunan Gresik, salah satu anggota Wali Songo. Dikisahkan bahwa Sunan Gresik meminta maaf kepada Sultan Demak setelah terjadi perselisihan di antara mereka. Sebagai tanda permintaan maaf, Sunan Gresik membawa ketupat yang kemudian menjadi tradisi turun-temurun.
Bagaimana Masyarakat Merayakan Lebaran Ketupat?
Di beberapa daerah, perayaan Lebaran Ketupat diwarnai dengan berbagai kegiatan menarik. Ada yang menggelar pasar tiban (dadakan) di sepanjang jalan, di mana warga menjual aneka makanan dan barang kebutuhan. Tak jarang juga diadakan hiburan rakyat seperti pertunjukan wayang, hadroh, atau seni budaya lainnya.
Selain itu, masyarakat biasanya saling berkunjung dan bersilaturahmi ke rumah sanak saudara atau tetangga. Kegiatan ini disebut ‘syawalan’, yang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran Ketupat. Pada momentum ini, mereka saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan.
Melestarikan Tradisi Warisan Leluhur
Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi Lebaran Ketupat masih terus dilestarikan oleh masyarakat Jawa. Upaya ini penting dilakukan untuk menjaga nilai-nilai budaya dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Keberadaan Lebaran Ketupat juga menjadi pengingat bahwa Indonesia kaya akan aneka ragam tradisi, yang setiap daerah memiliki keunikannya masing-masing. Melestarikan warisan budaya ini berarti pula memperkuat jati diri bangsa di tengah perubahan zaman.





