Teknologi

Misi Artemis II NASA: Kenapa Cuma Keliling Bulan?

Realita BengkuluNASA akan meluncurkan roket Space Launch System (SLS) dan kapsul Orion dalam misi Artemis II pada Rabu, 1 April 2026, dari Kennedy Space Center, Florida. Misi bersejarah ini membawa empat astronaut mengelilingi Bulan untuk pertama kalinya sejak 1972.

Cuaca menunjukkan 80 persen peluang mendukung peluncuran. Perjalanan selama 10 hari ini akan menembus sisi jauh Bulan dan berpotensi memecahkan rekor jarak terjauh manusia dari Bumi yang saat ini dipegang misi Apollo 13.

Misi Artemis II NASA juga mencatat babak baru dalam eksplorasi antariksa. Ini menjadi penerbangan luar angkasa pertama di luar orbit Bumi rendah yang melibatkan astronaut berkulit berwarna, wanita, dan astronaut Kanada sekaligus.

Empat Astronaut Pembuat Sejarah

NASA mengirimkan empat kru istimewa dalam misi kali ini. Mereka adalah astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen.

Keempat nama ini akan mengukir sejarah baru dalam eksplorasi ruang angkasa. Glover menjadi astronaut berkulit berwarna pertama yang terbang melampaui orbit Bumi rendah, sementara Koch mencatat namanya sebagai wanita pertama dalam misi serupa.

Selain itu, Hansen membawa bendera Kanada dalam perjalanan manusia terjauh ke angkasa. Tim ini akan bekerja sama menguji berbagai sistem kritis selama 10 hari perjalanan.

Alasan Misi Artemis II Tidak Mendarat

Pertanyaan besar muncul: mengapa misi sebesar ini tidak mendaratkan astronaut di permukaan Bulan? Jawabannya terletak pada pendekatan bertahap NASA dalam mengembangkan kemampuan eksplorasi.

“Jawaban singkatnya adalah karena misi ini tidak memiliki kemampuan tersebut. Ini bukanlah pendarat Bulan,” jelas Patty Casas Horn, wakil kepala bidang Analisis Misi dan Penilaian Terpadu di NASA, seperti dilansir CNN pada Senin, 30 Maret 2026.

Horn melanjutkan bahwa NASA membangun kemampuan secara bertahap untuk meminimalkan risiko. Setiap tahap pengembangan teknologi harus melalui pengujian ketat sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

“Sepanjang sejarah NASA, segala sesuatu yang kami lakukan memang sedikit berisiko, dan oleh karena itu kami ingin memastikan bahwa risiko tersebut masuk akal,” ujar Horn. Badan antariksa ini hanya menerima risiko yang memang harus mereka terima dalam batas wajar.

Pendekatan ini mengikuti filosofi: kembangkan kemampuan, uji, lalu kembangkan lagi. Meski belum sampai pada tahap pendaratan, Artemis II berfokus pada pengujian sistem dengan awak manusia di dalamnya.

Perbedaan Artemis I dan Artemis II

Misi Artemis I menjadi fondasi penting bagi Artemis II. Program perdana ini terbang tanpa awak selama 25 hari pada November 2022 dan berhasil mengorbit Bulan dengan sempurna.

Namun, kehadiran empat astronaut dalam Artemis II mengubah banyak hal. Penerbangan ini menandai pertama kalinya manusia berada di dalam pesawat ruang angkasa Artemis, membawa tantangan teknis yang sama sekali berbeda.

Roket SLS akan meluncurkan kapal ruang angkasa Orion ke orbit Bumi terlebih dahulu. Setelah itu, awak akan melanjutkan perjalanan ke ruang angkasa jauh mengelilingi Bulan.

Tantangan Teknis yang Harus NASA Uji

“Sekarang, dengan empat awak manusia di dalamnya, kami akan menguji banyak kemampuan baru yang belum ada pada misi Artemis I,” kata Horn. Kehadiran manusia membawa kompleksitas baru yang harus diantisipasi.

NASA harus menjaga stabilitas suhu wahana agar para awak merasa nyaman sepanjang perjalanan. Tantangan bertambah ketika manusia berada di dalam pesawat ruang angkasa karena kelembapan udara pun akan meningkat.

Kebutuhan dasar astronaut menjadi prioritas pengujian. Mereka membutuhkan makanan yang cukup, air bersih, dan tentunya toilet yang berfungsi dengan baik di lingkungan tanpa gravitasi.

Lebih dari itu, NASA melengkapi Orion dengan beberapa alat olahraga kali ini. Peralatan ini akan mereka uji untuk memastikan astronaut dapat menjaga kebugaran fisik selama misi berlangsung.

Ternyata, sistem navigasi dan propulsi juga masuk dalam daftar pengujian kritis. Semua sistem ini harus bekerja sempurna karena empat nyawa bergantung pada teknologi tersebut.

Prioritas Keselamatan di Atas Segalanya

Meski tidak mendarat di Bulan, misi ini membawa tanggung jawab yang sangat besar. NASA menempatkan keselamatan astronaut sebagai prioritas nomor satu yang tidak bisa ditawar.

Badan antariksa Amerika ini memastikan para astronaut dapat pulang kembali ke Bumi dengan selamat. Ini menjadi tujuan utama yang mengungguli segala target teknis lainnya.

Kemudian, keamanan wahana antariksa menempati prioritas berikutnya. NASA harus memastikan setiap komponen Orion dan SLS bekerja optimal tanpa ada kerusakan yang membahayakan misi.

Setelah seluruh aspek keselamatan astronaut dan armada terjamin, barulah misi difokuskan pada tujuan teknis. Pengujian sistem menjadi bonus yang sangat berharga jika keselamatan sudah terpenuhi.

Pendekatan bertahap ini membuktikan komitmen NASA dalam eksplorasi antariksa yang bertanggung jawab. Mereka tidak terburu-buru mengejar prestasi dengan mengorbankan keselamatan awak.

Artemis II menjadi batu loncatan penting menuju misi Artemis III yang nantinya akan mendaratkan manusia kembali di permukaan Bulan. Dengan data dan pengalaman dari misi kali ini, NASA akan lebih siap menghadapi tantangan pendaratan yang jauh lebih kompleks.

Jadi, peluncuran pada 1 April 2026 ini bukan hanya tentang mengelilingi Bulan. Ini tentang membangun fondasi kuat untuk masa depan eksplorasi antariksa manusia yang lebih aman dan lebih jauh lagi.