Realita Bengkulu – Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Indeks utama Wall Street, Dow Jones Industrial Average, resmi memasuki fase koreksi, turun lebih dari 10% dari titik tertingginya. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap inflasi yang semakin tinggi.
Pada perdagangan Senin (27/3/2026), Dow Jones anjlok 2,9% dan ditutup di level 32.271, sedangkan S&P 500 melemah 2,6% ke level 3.941. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 2,5% ke 11.623. Ini menandakan bahwa pasar saham AS telah memasuki fase koreksi sejak mencapai rekor tertinggi baru-baru ini.
Harga Minyak Mendekati US$100 per Barel
Salah satu faktor yang menekan pasar saham adalah kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah Brent saat ini telah mendekati level US$100 per barel, tertinggi sejak 2014. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Rusia dan Ukraina yang semakin memanas.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menegaskan bahwa bank sentral AS akan terus menaikkan suku bunga untuk mengendalikan laju inflasi yang semakin mengkhawatirkan. Inflasi di AS saat ini telah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
The Fed Bersiap Menaikkan Suku Bunga Lebih Agresif
Menghadapi situasi ini, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan lebih agresif dalam pertemuan selanjutnya. Langkah ini bertujuan untuk meredam laju inflasi yang semakin tinggi dan memberi sinyal kepada pasar bahwa bank sentral serius dalam mengatasi masalah ini.
Investor pun menjadi khawatir dengan prospek ekonomi AS ke depan. Mereka khawatir kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed dapat memicu perlambatan ekonomi. Hal ini menyebabkan aksi jual saham secara masif di pasar keuangan AS.






