Nasional

Cerita Sendu Warga Pinggiran Rel Senen: Harapan dan Ketidakpastian

Realita Bengkulu – Di sisi utara Stasiun Senen, Jakarta, berdiri perkampungan yang rapi dan tertata, namun juga penuh dengan ketidakpastian. Kampung yang berada di pinggiran rel kereta ini rumah bagi puluhan warga, yang sejak lama hidup dalam bayang-bayang penggusuran.

Salah satu penghuninya adalah Andi, seorang pria paruh baya yang telah menetap di sini selama bertahun-tahun. Seperti warga lainnya, Andi berharap dapat terus tinggal di tempat yang ia sebut rumah ini, meski ia tahu suatu hari nanti nasib kampungnya bisa berubah.

Bertahan di Pinggir Rel

Andi mengungkapkan, kehidupan di pinggiran rel Stasiun Senen memang tidak mudah. Setiap hari, mereka harus hidup berdampingan dengan suara bising kereta yang lalu-lalang. Namun, warga di sini sudah terbiasa dan tetap memilih untuk bertahan.

“Memang agak sulit, tapi kami sudah biasa. Ini rumah kami, kami tak tahu harus tinggal di mana lagi,” ujar Andi saat ditemui Liputan6.com, Senin (27/3/2026).

Menghadapi Ancaman Penggusuran

Persoalan terbesar yang dihadapi warga pinggiran rel Senen adalah ancaman penggusuran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah lama menyatakan rencana untuk merelokasi permukiman ini demi pembangunan infrastruktur.

Warga pun khawatir kapan giliran kampung mereka akan digusur. “Kami selalu khawatir, takut suatu hari nanti kampung ini dibongkar. Tapi kami tak punya pilihan lain, ini tempat tinggal kami,” ujar Andi.

Menanti Kepastian dari Pemerintah

Saat ini, warga pinggiran rel Senen masih menunggu kepastian dari pemerintah terkait rencana relokasi. Mereka berharap dapat diberikan solusi terbaik, baik dari sisi tempat tinggal maupun mata pencaharian.

“Kami cuma ingin ada kepastian dari pemerintah. Kami ingin tahu kapan kami harus pindah, dan ke mana kami akan dipindahkan. Kami juga butuh jaminan untuk mata pencaharian kami,” harap Andi.

Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian ini, warga pinggiran rel Senen tetap berusaha untuk bertahan. Mereka menjalin kebersamaan dan saling membantu satu sama lain, demi menjaga keutuhan kampung yang telah lama menjadi tempat tinggal mereka.

“Kami saling bantu-membantu di sini. Kami tahu suatu hari nanti kami harus pergi, tapi selama kami masih di sini, kami akan terus berjuang untuk mempertahankan kampung ini,” pungkas Andi.