Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), kembali menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dan penolakan terhadap penjajahan Israel adalah amanat konstitusi yang tidak dapat diubah. Pernyataan ini disampaikan HNW saat menerima kunjungan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (19/1/2026).
Mandat Konstitusi yang Final
HNW menyatakan bahwa MPR RI, sebagai penjaga konstitusi, wajib menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menolak penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina. “Itu harga mati bagi bangsa Indonesia,” tegasnya dalam keterangan pers yang diterima pada Selasa (20/1/2026).
Ia mengapresiasi konsistensi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk Iran, dalam membela Palestina dan menolak relokasi paksa warga Gaza. HNW juga mengkritik langkah-langkah sepihak yang dinilai berpotensi menguatkan aneksasi Gaza oleh Israel.
“Langkah-langkah sepihak itu berpotensi menghilangkan Gaza sebagai bagian dari Palestina, bahkan mengubur two state solution apalagi berdirinya negara Palestina merdeka dan berdaulat penuh,” ujar HNW. Ia menekankan pentingnya negara-negara OKI untuk mempertahankan sikap yang sama demi kepentingan Gaza, Palestina, dan Masjid Al-Aqsa.
Solidaritas Muslim Meningkat
HNW menilai dinamika geopolitik terkini menunjukkan peningkatan solidaritas negara-negara Muslim dalam menghadapi tekanan dari Israel dan sekutunya. Ia menyoroti penolakan sejumlah negara terhadap pengakuan sepihak Israel atas Somaliland dan sikap menentang ancaman serangan terhadap Iran.
“Ada kesadaran kolektif bahwa kita penting mengusahakan kerja sama dan terus menjaga kedaulatan negara-negara Muslim dan tidak terjebak dalam pengalihan isu, sementara pelanggaran HAM dan gencatan senjata dan kejahatan kemanusiaan terhadap Gaza terus terjadi,” ucapnya.
Menurutnya, penguatan kerja sama antarnegara OKI menjadi kunci untuk melindungi Gaza, mewujudkan cita-cita Palestina merdeka, menjaga Masjid Al-Aqsa, serta mendukung stabilitas kawasan Timur Tengah.
Penguatan Hubungan Antarparlemen
HNW menyambut baik usulan Dubes Iran terkait penguatan hubungan antarparlemen Indonesia-Iran. Ia mengakui kerja sama parlemen kedua negara telah terjalin positif melalui forum internasional seperti Inter-Parliamentary Union (IPU), Asian Parliamentary Assembly (APA), dan Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC).
“Kami sepakat bahwa hubungan antarparlemen harus terus diperkuat karena menjadi pintu penting untuk menguatkan hubungan antarnegara di berbagai forum internasional,” tambahnya.
HNW yang telah beberapa kali berkunjung ke Iran, baik saat menjabat Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI maupun Ketua MPR RI, menyatakan hubungan Indonesia dan Iran sudah sangat baik. “Tinggal bagaimana kita terus memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan bersama, termasuk kejahatan zionis Israel yang menjajah Palestina dan terus mengusahakan pelebaran penjajahannya,” ujarnya.
Iran Apresiasi Sikap Indonesia
Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, mengapresiasi sikap Indonesia dan MPR RI terhadap isu Palestina. Ia menilai rezim Zionis sebagai sumber utama instabilitas di kawasan Asia Barat.
“Rezim Zionis ibarat kanker ganas di kawasan. Jika persoalan ini bisa diselesaikan, maka perdamaian dan stabilitas kawasan akan lebih mudah terwujud,” ujar Boroujerdi.
Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima tekanan yang menghilangkan kemampuan pertahanannya, merujuk pada pengalaman negara lain seperti Libya dan Irak. Ia juga menyatakan bahwa Israel berupaya melemahkan negara-negara Muslim demi kepentingannya.
Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi mengundang HNW untuk kembali berkunjung ke Iran serta menghadiri peringatan Hari Nasional Iran pada 10 Februari 2026 di Jakarta. HNW menyatakan kesediaannya, “Saya sepakat bahwa cara terbaik memperkuat hubungan adalah dengan saling mengunjungi dan berdialog langsung,” ujarnya.
HNW menutup pertemuan dengan menegaskan pentingnya solidaritas umat Islam. “Umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Karena itu, kerja sama dan kebersamaan menjadi kunci dalam membela kemanusiaan dan keadilan,” pungkasnya.






