Berita

Kerusuhan Iran Meluas, Komisi I DPR Minta Pemerintah Siapkan Evakuasi WNI

Jakarta – Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak pemerintah, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, untuk segera memastikan keamanan Warga Negara Indonesia (WNI) di tengah eskalasi kerusuhan yang melanda Iran. Lembaga legislatif tersebut meminta Kemlu untuk menyiapkan opsi evakuasi terukur bagi WNI jika situasi di lapangan semakin memburuk.

Desakan Evakuasi dan Pemantauan Keamanan

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan situasi di Iran. Ia menekankan bahwa keselamatan WNI harus menjadi prioritas utama pemerintah. “Apabila eskalasi semakin meningkat, opsi evakuasi terukur juga harus dipersiapkan dengan tetap memperhatikan keselamatan dan prosedur diplomatik yang berlaku,” ujar Dave kepada wartawan pada Senin, 12 Januari 2026.

Dave Laksono menambahkan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran perlu meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemantauan situasi secara real-time. Selain itu, pembukaan saluran komunikasi darurat bagi seluruh WNI di Iran juga sangat krusial. “Inventarisasi jumlah dan lokasi WNI perlu segera dilakukan untuk mengidentifikasi potensi risiko secara cepat,” tegasnya.

Komisi I DPR juga menyoroti pentingnya sosialisasi mitigasi keamanan kepada WNI yang berada di Iran. Dave meminta Kemlu untuk menjalankan tugasnya secara maksimal dalam menghadapi situasi yang penuh gejolak ini. “Dalam kondisi yang penuh gejolak seperti sekarang, kami menyerukan agar Kemlu segera melakukan langkah-langkah antisipatif dan koordinatif,” katanya.

Situasi di Iran: Korban Jiwa dan Pernyataan Pemerintah

Kerusuhan yang terjadi di Iran dilaporkan terus meluas, menyebabkan ratusan korban jiwa. Berdasarkan laporan, sekitar 500 orang dilaporkan meninggal dunia. Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung selama tiga hari untuk menghormati warga yang tewas.

Pemerintah Iran, melalui Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) seperti dilansir CNN International pada Senin (12/1), menyebut para korban sebagai ‘martir gerakan perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis’. IRIB menyatakan bahwa rakyat Iran telah mengalami langsung teror dari kelompok kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan layaknya ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian dengan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Lebih dari 100 anggota pasukan keamanan Iran dilaporkan tewas sejak protes dimulai. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan bahwa sekitar 500 demonstran tewas dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap dalam 15 hari terakhir.

Ajakan Melawan dan Kecaman Terhadap AS-Israel

Pemerintah Iran juga menyerukan rakyatnya untuk terus melawan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Iran, Masoud Pezekshkian, mengajak seluruh rakyat Iran untuk turun ke jalan pada hari Senin (12/1) dalam sebuah pawai nasional yang bertujuan mengecam kekerasan yang menurut Iran didalangi oleh kedua negara tersebut.